edukasi

Mengenal Tingkeban, Tradisi Njawani dalam Menyambut Tujuh Bulan Kehamilan Seorang Ibu

Sabtu, 6 September 2025 | 11:38 WIB
Mantan Presiden RI, Joko Widodo saat lakukan siraman Tingkeban sang menantu, Erina Gudono (suara)

KLIK SAJA – Salah satu fase kehidupan yang terpenting pada seorang Wanita adalah saat menjalani proses kehamilan.

Dalam adat Jawa, seorang Wanita yang menjalani proses kehamilan harus dimaknai secara simbolis dengan upacara yang bernama Tingkeban.

Tingkeban merupakan salah satu upacara adat Jawa yang penuh makna, dilakukan saat seorang ibu memasuki usia tujuh bulan kehamilan.

Tradisi ini dikenal dengan berbagai sebutan: mitoni di Jawa Tengah, palet kandhungan di Madura, dan nujuh-bulan di Jawa Barat.

Kata tingkeb berarti "tutup", sehingga tingkeban dimaknai sebagai penutup masa kehamilan hingga bayi dilahirkan.

Konon, jejak tingkeban dipercaya sudah ada sejak zaman Kerajaan Kediri di bawah pemerintahan Raja Jayabaya.

Menurut cerita, tradisi ini berawal dari kisah pasangan Niken Satingkeb dan Sadiyo, seorang punggawa kerajaan, yang dikaruniai sembilan anak namun tak satu pun bertahan hidup hingga dewasa.

Baca Juga: Pela Gandong: Perekat Perdamaian Masyarakat Maluku yang Majemuk

Atas perintah Raja, mereka menjalani tiga laku ritual: mandi setiap hari Rabu (tumbah), mandi setiap hari Sabtu (budha), serta mandi suci menggunakan air khusus dengan gayung tempurung kelapa.

Usai mandi, mereka berganti pakaian bersih sambil menggembol kelapa gading yang diikat daun tebu tulak, lalu menjatuhkannya ke tanah.

Daun tebu itu kemudian dipotong dengan keris oleh Sadiyo sebagai simbol pemutus kesulitan hidup.

Sejak saat itu, laku ritual Niken Satingkeb menjadi cikal bakal tradisi tingkeban yang diwariskan hingga kini.

Upacara tingkeban memiliki dua bentuk. Untuk kehamilan anak pertama, biasanya diadakan siraman, yakni prosesi penyucian diri calon ibu dengan air.

Sementara pada kehamilan anak kedua dan seterusnya, biasanya hanya dilakukan selamatan dan kenduri sederhana.

Halaman:

Tags

Terkini