Selain I La Galigo, Colliq Pujie juga menulis karya penting lain, seperti Sureq Baweng, kumpulan petuah yang penuh makna mendalam, serta Lontaraqna Tanete atau Sejarah Tanete yang merekam perjalanan 20 raja Tanete.
Karya ini kemudian diterbitkan dalam bahasa Belanda dengan judul Geschiedenis Van Tanette. Ia juga menulis naskah La Toa, yang berisi aturan pemerintahan dan nilai-nilai kepemimpinan.
Warisan Colliq Pujie menunjukkan bahwa seorang perempuan bisa menjadi pusat perubahan, bukan hanya dalam sastra, tetapi juga dalam perlawanan terhadap kolonialisme.
Kehidupan Colliq Pujie adalah kisah tentang keberanian, kecintaan pada sastra, dan pengabdian pada rakyat.
Melalui penanya, ia melestarikan salah satu epos terbesar dunia sekaligus mengobarkan perlawanan.
Di tengah arus globalisasi, kisah Colliq Pujie mengingatkan kita bahwa kekuatan seorang pemimpin sejati lahir dari keberanian menjaga nilai leluhur dan kearifan budaya.
Namanya akan terus dikenang, bukan hanya sebagai penyalin I La Galigo, tetapi juga sebagai perempuan pejuang Bugis yang mengukir sejarah dengan kata-kata.***