Sejak kecil, Colliq Pujie sudah jatuh cinta pada dunia sastra. Ia menghabiskan banyak waktu di perpustakaan kerajaan dan berkelana ke berbagai daerah untuk mengumpulkan epos dan syair Bugis.
Baginya, sastra bukan sekadar hobi, melainkan jalan untuk melestarikan budaya sekaligus melakukan perlawanan.
Dalam pengasingannya, ia bahkan menciptakan aksara Bilang, sebuah tulisan rahasia gabungan huruf Arab dan Bugis.
Aksara ini dipakai untuk berkomunikasi dengan rakyat Tanete dari kejauhan, mengobarkan semangat melawan penjajahan meski ia terpisah lebih dari 100 kilometer.
Tindakannya ini menunjukkan bagaimana bagi Colliq Pujie, pena bisa menjadi senjata sekuat pedang.
Keberanian Colliq Pujie semakin diuji ketika anaknya, We Tenriolle, yang diangkat menjadi Raja Tanete, memilih bekerja sama dengan Belanda.
Perbedaan sikap itu membuat hubungan ibu-anak merenggang. Namun, tekad Colliq Pujie tak pernah surut.
Ia tetap menolak segala bentuk ketidakadilan penjajah, meski harus menanggung risiko diasingkan Belanda selama sepuluh tahun (1857–1867) di Ujung Pandang.
Perjalanan Menyalin I La Galigo
Di tengah berbagai cobaan, Colliq Pujie tetap setia pada kecintaannya terhadap sastra. Pertemuannya dengan Benjamin Frederik Matthes, misionaris asal Belanda, menjadi titik balik penting.
Keduanya bekerja sama mengumpulkan sureq (nyanyian leluhur Bugis) dan menyusunnya menjadi sebuah naskah raksasa: I La Galigo.
Proses penyalinan memakan waktu sekitar 20 tahun, sebagian di antaranya ia kerjakan dalam pengasingan.
Colliq Pujie menyalin ribuan baris syair dengan teliti, sekaligus memberi petunjuk kepada Matthes tentang bagian-bagian lain yang perlu dikumpulkan.
Hasilnya sungguh luar biasa: 12 jilid naskah, 2.851 halaman folio, dan lebih dari 300.000 baris syair. Jumlah ini menjadikan I La Galigo sebagai karya sastra terpanjang di dunia, bahkan melampaui epos besar India, Mahabharata.