c) (3), (1), (4), (2), (5)
d) (4), (2), (5), (3), (1)
e) (5), (3), (1), (4), (2)
Jawaban
c) (3), (1), (4), (2), (5)
d) (4), (2), (5), (3), (1)
e) (5), (3), (1), (4), (2)
Jawaban
Untuk menyusun kalimat-kalimat yang ada menjadi sebuah paragraf yang baik dan padu, kita perlu memperhatikan alur logis dan kesinambungan antara kalimat satu dengan yang lainnya. Paragraf yang baik biasanya dimulai dengan pengantar umum, kemudian diikuti dengan penjelasan lebih mendalam, dan diakhiri dengan contoh atau pernyataan yang memperkuat argumen.
Mari kita analisis urutan kalimat-kalimat tersebut:
Kalimat (1): "Syukur-syukur jadi anak superior dengan IQ diatas 130."
Kalimat ini memberikan pengantar yang berhubungan dengan harapan orang tua terhadap anak-anak mereka, terkait dengan IQ yang tinggi.
Kalimat (2): "Dalam paradigma IQ dikenal dengan kategori hamper atau genius kalau seorang punya IQ diatas 140."
Kalimat ini memperkenalkan kategori IQ, menjelaskan apa yang dimaksud dengan "genius" atau "hamper" yang memiliki IQ di atas 140, memberikan penjelasan teknis mengenai pengklasifikasian IQ.
Kalimat (3): "Hingga hari ini pun masih banyak orang tua yang mengharapkan anak-anaknya pintar, terlahir dengan IQ (Intelligence Quotient) diatas level normal (lebih dari 100)."
Kalimat ini memperkenalkan harapan orang tua secara umum bahwa anak-anak mereka diharapkan memiliki IQ yang tinggi. Kalimat ini memberikan konteks lebih lanjut terhadap pembahasan sebelumnya tentang IQ.
Kalimat (4): "Harapan itu tentu sah saja."
Kalimat ini menyatakan bahwa harapan orang tua untuk memiliki anak yang pintar adalah sah dan wajar. Ini memberi penegasan terhadap ide yang ada dalam kalimat sebelumnya.
Kalimat (5): "Albert Einstein adalah ilmuwan yang IQ-nya disebut-sebut lebih dari 160."
Kalimat ini memberikan contoh spesifik mengenai tokoh terkenal dengan IQ tinggi, yaitu Albert Einstein, yang memperkuat ide tentang kecerdasan dan IQ tinggi.
Dimulai dengan kalimat (3) yang memberikan gambaran umum mengenai harapan orang tua terhadap anak-anak mereka yang memiliki IQ tinggi.
Setelah itu, kalimat (1) memperkenalkan topik tentang harapan tersebut dengan menyebutkan IQ tinggi di atas 130.
Kemudian, kalimat (2) menjelaskan lebih lanjut tentang kategori IQ yang dikenal dalam paradigma IQ, seperti kategori genius.
Selanjutnya, kalimat (4) menguatkan bahwa harapan tersebut adalah hal yang wajar dan sah.