(7) Ayah : Anak Ayah pintar.
Penggunaan kata sapaan yang salah terdapat pada nomor . . .
a) (1), (2), (4), dan (6)
b) (2), (3), (5), dan (6)
c) (2), (3), (4), dan (5)
d) (2), (3), (6), dan (7)
Jawaban
(7) Ayah : Anak Ayah pintar.
Penggunaan kata sapaan yang salah terdapat pada nomor . . .
a) (1), (2), (4), dan (6)
b) (2), (3), (5), dan (6)
c) (2), (3), (4), dan (5)
d) (2), (3), (6), dan (7)
Jawaban
Untuk menjawab pertanyaan ini dengan akurat, kita perlu mengidentifikasi penggunaan kata sapaan yang tidak sesuai atau salah dalam teks drama yang diberikan. Dalam percakapan ini, terdapat beberapa kalimat yang diucapkan oleh Ayah dan Tuti, di mana kata sapaan yang digunakan bisa mempengaruhi kelancaran komunikasi dan kesesuaian dalam konteks hubungan antara keduanya. Kata sapaan yang digunakan dalam bahasa Indonesia sangat penting untuk menunjukkan kedekatan, rasa hormat, atau jenis hubungan antar pembicara.
Kalimat (1)
Ayah: "Waduh, kasihan juga ya, Ayah, penduduk yang kena gempa itu."
Di kalimat ini, penggunaan kata "Ayah" yang diucapkan oleh Ayah kepada dirinya sendiri adalah tidak tepat. Biasanya, kata "Ayah" digunakan oleh anak sebagai bentuk sapaan, bukan oleh orang tua kepada dirinya sendiri. Kata yang lebih sesuai seharusnya "saya" atau "aku" dalam percakapan ini.
Kalimat (2)
Tuti: "Gempa itu apasih, yah?"
Di sini, Tuti menggunakan kata "yah" yang seharusnya diganti dengan "ayah" untuk merujuk kepada orang tuanya. Penggunaan "yah" merupakan bentuk yang tidak baku dan kurang formal. Dalam konteks percakapan ini, sebaiknya Tuti menyapa Ayah dengan menggunakan bentuk yang lebih tepat dan baku, yaitu "ayah."
Kalimat (3)
Ayah: "Gempa itu, ya, gempa bumi, nak. Bumi bergetar dan berguncang seperti digoyang-goyang gitu."
Kata sapaan "nak" yang digunakan oleh Ayah kepada Tuti di sini adalah tepat. "Nak" merupakan bentuk sapaan yang lazim digunakan orang tua kepada anak dalam bahasa Indonesia. Jadi, penggunaan kata "nak" sudah sesuai dan tidak ada kesalahan.
Kalimat (4)
Tuti: "Memangnya kenapa, kok bumi berguncang, ayah?"
Di kalimat ini, Tuti menggunakan kata sapaan "ayah" yang benar. Sebagai anak yang sedang bertanya kepada orang tuanya, penggunaan "ayah" sudah tepat dan tidak ada kesalahan.
Kalimat (5)
Ayah: "Ada dua penyebabnya, Nak. Pertama, adanya pergeseran beberapa lapisan lempeng bumi sehingga menimbulkan guncangan atau getaran di permukaan bumi. Ini yang disebut gempa tektonik. Kedua, adanya gunung api yang meletus sehingga menimbulkan goncangan juga. Ini yang disebut gempa vulkanik."
Di sini, Ayah menggunakan kata sapaan "Nak" yang sangat tepat. "Nak" digunakan oleh Ayah untuk menyapa Tuti, dan ini sangat umum digunakan dalam percakapan sehari-hari antara orang tua dan anak.
Kalimat (6)
Tuti: "Oh, aku ngerti, ayah. Jadi, gempa bumi disebabkan oleh pergeseran lempeng bumi dan oleh letusan gunung api."
Tuti menggunakan kata "ayah" dengan benar di sini untuk menyapa orang tuanya. Penggunaan kata "ayah" adalah tepat karena ini adalah bentuk penghormatan dan keakraban dalam percakapan antara anak dan orang tua.
Kalimat (7)
Ayah: "Anak Ayah pintar."
Pada kalimat ini, penggunaan kata "Anak Ayah" adalah tepat. Ini adalah bentuk pengakuan atau pujian dari Ayah kepada Tuti. Dalam konteks ini, Ayah tidak salah menggunakan kata "Anak Ayah," karena itu adalah cara yang baik untuk menyatakan kedekatan dalam hubungan orang tua dan anak.