Dikarenakan tidak akan selalu mendapat pekerjaan di perusahaan yang diinginkan, ada kasus mahasiswa menyerahkan entry sheet ke puluhan bahkan ratusan perusahaan.
Mahasiswa Jepang sangat mementingkan foto wajah yang dilampirkan pada entry sheet, dan banyak yang menghabiskan biaya sekitar 10.000yen untuk meminta fotografer profesional untuk mendapatkan foto profil yang bagus.
Bahkan untuk mahasiswi terdapat tradisi “berburu pekerjaan make up”, dimana para mahasiswi Jepang rela ke salon mahal, demi mendapatkan riasan terbaik saat wawancara.
Fase Wawancara
Jika lulus dari proses Entry Sheet, sesi berikutnya adalah proses wawancara, pada perusahaan besar, ada beberapa kali proses wawancara, dari wawancara 1, wawancara 2, wawancara 3, wawancara final, sama halnya yang terjadi di Indonesia.
Pada saat proses wawancara, terdapat kode etik tak tertulis, dan hanya terjadi di Jepang, yaitu :
- Mahasiswa yang melamar, pada saat akan memasuki ruang wawancara, mengetuk pintu sebanyak 3 kali.
- Ketika setelah ada jawaban dari dalam ruangan, “Iya, silakan masuk”, pelamar baru boleh membuka pintu dan memasuki ruangan.
- Selama proses wawancara, jajarkan kedua tangan di pangkuan, untuk memberikan kesan penghormatan.
- Setelah wawancara selesai, membungkuklah kepada pewawancara di depan pintu dan mengatakan “Shitsurei shimasu” yang artinya Permisi", sebelum meninggalkan ruangan.
- Setelah wawancara selesai, terdapat kode etik dimana mahasiswa mengirim email dan surat kepada perusahaan untuk mengucapkan terima kasih atas wawancara tersebut
Etiket ini sebenarnya bukanlah suatu keharusan, namun karena kesopanan dan rasa hormat adalah budaya yang mengakar di Jepang, maka kode etik tersebut tentunya masuk dalam penilaian.
Pada saat wawancara, ada pertanyaan yang selalu ditanyakan pewawancara kepada mahasiswa. Pertanyaan tersebut adalah "Apa yang paling diupayakan saat masa perkuliahan?"
Untuk menjawab pertanyaan ini dengan baik dan sempurna, sebelum berburu pekerjaan dimulai, mahasiswa berupaya keras untuk menciptakan sesuatu yang bisa menjadikan jawaban atas pertanyaan tersebut
Selain wawancara, hasil ujian kompetensi juga akan mempengaruhi diterima atau tidaknya seorang calon karyawan, mirip seperti di Indonesia, namun di Jepang, sesi wawancara merupakan fase paling krusial dalam perekrutan.
Email Doa
Jika perusahaan akhirnya tidak akan mempekerjakan mahasiswa calon karyawan, mereka akan mengirim email dengan memberi tahu mereka bahwa mereka tidak akan dipekerjakan.
Mahasiswa di Jepang menyebut email tersebut sebagai "Email Doa", alasannya karena isi email yang memberi tahumu tentang penolakan, di akhir email ditulis "Kami berharap yang terbaik untuk masa depan Anda".
Alih-alih mengatakan "Saya ditolak", banyak mahasiswa yang mengatakan "Saya menerima Email Doa" atau "Saya didoakan".