Mengenal Malam Bakupas, Cara Orang Minahasa Menghargai Rempah-Rempah dan Perekat Tali Silaturahmi

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Kamis, 4 September 2025 | 10:23 WIB
suasana malam bakupas dalam persiapan pernikahan (RRI)
suasana malam bakupas dalam persiapan pernikahan (RRI)

KLIK SAJA – Bumi Nusantara sangat lekat dengan rempah-rempah, baik dalam bumbu masakan maupun sejarah panjang bangsa ini.

Melalui rempah-rempah, negeri ini menjadi termasyhur ke seluruh dunia, dimana komoditinya dianggap sangat berharga di masa lampau.

Maka dari itu kedudukan rempah-rempah terasa sangat spesial di hati masyarakat Nusantara.

Salah satu etnis yang terkenal menjaga erat tradisi menghargai rempah-rempah adalah masyarakat Minahasa dari Sulawesi Utara.

Syahdan, Masyarakat Minahasa dikenal memiliki ikatan yang kuat dengan rempah-rempah dari masa ke masa.

Bukan hanya sebagai bahan pangan dan penopang ekonomi, rempah juga menjadi simbol pengikat dalam kehidupan sosial dan budaya.

Salah satu tradisi yang memperlihatkan eratnya hubungan masyarakat Minahasa dengan rempah adalah Malam Bakupas.

Secara harfiah, Malam Bakupas berarti “malam untuk mengupas”. Tradisi ini digelar sehari sebelum sebuah acara besar, khususnya pernikahan.

Pada momen itu, keluarga, tetangga, hingga kerabat berkumpul di rumah mempelai untuk mengolah rempah-rempah yang kelak menjadi bumbu hidangan perjamuan.

Rempah-rempah yang digunakan sangat beragam, mulai dari goraka (jahe), lengkuas, serai, biji pala, bawang merah, daun pandan, kemiri, hingga cengkeh.

Prosesnya dimulai dengan mengupas kulit luar rempah, lalu dilanjutkan dengan mencuci, memotong, mencincang, memarut, menumbuk, hingga mencampur sesuai arahan kepala koki atau sesepuh yang memimpin jalannya persiapan masakan.

Suasana Malam Bakupas begitu hangat. Keluarga penyelenggara biasanya menyiapkan tenda, kursi panjang, serta pengeras suara.

Para tamu kemudian duduk melingkar sambil bekerja bersama. Tradisi ini diiringi musik tradisional Minahasa seperti kalelon-maaruyen, orkes bambu, hingga disko tana.

Di sela kegiatan, tersedia juga makanan khas dan minuman tradisional berupa fermentasi air nira untuk menghangatkan tubuh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X