KLIK SAJA - Pusat Strategi Kebijakan Multilateral (Pusat SK Multilateral) Kementerian Luar Negeri telah menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk “Jaring Masukan Identifikasi Materi Diseminasi Peluang Karier WNI di Organisasi Internasional (OI)” pada Kamis, 31 Oktober 2024 di Pusdiklat Kementerian Luar Negeri, Jakarta.
Acara ini memiliki tujuan untuk mendorong lebih banyak WNI untuk berkarier di OI.
Perihal ini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2019 tentang Keanggotaan dan Kontribusi Indonesia pada Organisasi Internasional (Perpres KKOI) yang sudah dituangkan dalam Peraturan Menteri Luar Negeri Nomor 8 Tahun 2023.
Dimana dengan adanya kontribusi WNI di OI dapat memberikan manfaat, antara lain untuk mendapatkan akses informasi serta pengembangan jejaring internasional.
WNI di OI juga dapat memiliki peran dalam mempengaruhi agenda dan prioritas kerja sama sekaligus memperkuat peran dan kepemimpinan Indonesia.
Berkarier di OI juga dapat menjadi investasi berharga dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
Kegiatan dibuka oleh Plt. Kepala Pusat SK Multilateral, Vahd Nabyl A. Mulachela yang pada sambutannya menegaskan pentingnya partisipasi aktif WNI di kancah global sebagai bagian dari upaya mencapai Indonesia Emas 2045.
Uniknya, acara ini diselenggarakan secara hybrid, menghadirkan narasumber daring dari berbagai lokasi luar negeri.
Mereka adalah WNI yang sudah berkarir di OI, seperti Sekretaris Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral, Yohpy Ichsan Wardana; Co-Chair UN Human Resources Working Group, Astiti Sukatrilaksana; dan Head of Legal Program Prakerja Gabriel Mukuan, Dodik Ariyanto sebagai Head of Islamophobia Observatory di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah, Arab Saudi dan Zenathan Hasanuddin, ekonom di UN Trade and Development (UNCTAD) di Jenewa, Swiss.
Kegiatan ini membahas informasi pentingnya untuk meningkatkan representasi WNI yang bekerja di PBB, lowongan informasi peluang karier, sejumlah mekanisme rekrutmen di Sistem PBB, mulai dari internship; volunteer; graduate programme; young professional programme; project personnel consultant; staff member; dan global talent pool.
Maka dengan sistem perekrutan yang kompetitif dan berskala global, pertemuan juga membahas tentang perlunya talenta muda Indonesia dipersiapkan sedari dini, dengan pelibatan perguruan tinggi untuk mempersiapkan lulusannya agar memiliki kompetensi yang cukup untuk berkarier di OI.
Di samping mencari sebanyak-banyaknya pengalaman, lulusan perguruan tinggi yang ingin bekerja di OI juga perlu meningkatkan keterampilan melalui berbagai macam pelatihan yang menunjang.