teknologi

Mengagumi Teknik Pembuatan Kapal Pinisi Khas Bugis: Warisan Maritim Nusantara yang Diakui Dunia

Jumat, 3 Juli 2026 | 18:51 WIB
Pembuatan Kapal Pinisi di Tana Beru (Indonesia Kaya)

KLIK SAJA – Idiom ‘Nenek moyangku seorang pelaut’ bukanlah sekedar lantunan bait lagu saja, tetapi memang benar-benar bagian dari kejayaan sejarah masa lampau bangsa Nusantara.

Salah satu warisan maritim Nusantara yang telah diakui dunia adalah Kapal Pinisi.

Kapal Pinisi telah lama menjadi simbol kejayaan maritim Indonesia. Bukan sekadar alat transportasi laut, kapal layar tradisional khas Sulawesi Selatan ini mencerminkan kecanggihan teknologi perkapalan tradisional, kearifan lokal, serta keterampilan yang diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.

Keunikan teknik pembuatannya membuat Pinisi dikenal hingga mancanegara. Pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia semakin menegaskan bahwa nilai Pinisi tidak hanya terletak pada bentuk kapalnya, tetapi juga pada pengetahuan, tradisi, dan filosofi yang hidup di balik proses pembuatannya.

Kapal Pinisi berasal dari masyarakat Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan.

Sejak ratusan tahun silam, kapal ini menjadi tulang punggung pelayaran antarpulau, perdagangan, hingga pelayaran jarak jauh yang menghubungkan berbagai wilayah di Nusantara bahkan hingga Madagaskar.

Baca Juga: Menelusuri Sejarah Bajak Laut Biak Numfor di Masa Lalu, Viking Van Papua yang Ditakuti VOC

Keahlian membangun Pinisi diwariskan secara turun-temurun dengan tetap mempertahankan teknik dasar yang telah teruji oleh waktu.

Pada 2017, UNESCO secara resmi menetapkan Seni Pembuatan Perahu Pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Pengakuan tersebut diberikan bukan semata karena keindahan kapal, melainkan juga karena pengetahuan tradisional, keterampilan para pembuatnya, serta nilai budaya yang terus dijaga oleh masyarakat pendukungnya.

Pengakuan itu menempatkan Pinisi sebagai salah satu representasi penting identitas maritim Indonesia di mata dunia.

Pembuatan Kapal Pinisi diawali dengan pemilihan bahan baku yang dilakukan secara cermat. Para pengrajin umumnya menggunakan kayu keras, seperti ulin atau bitti, yang dikenal memiliki ketahanan tinggi terhadap air laut, cuaca ekstrem, dan usia pakai yang panjang.

Pemilihan kayu tidak hanya didasarkan pada kualitas material, tetapi juga pengalaman panjang para pembuat kapal dalam mengenali karakter setiap jenis kayu.

Sebelum pohon ditebang, biasanya dilakukan ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada alam.

Halaman:

Tags

Terkini