teknologi

Ramadan Tahun 2030 Terjadi Dua Kali Dalam Setahun, Berikut Penjelasan Ilmiahnya!

Rabu, 18 Februari 2026 | 19:52 WIB
ilustrasi pengamatan Hilal Ramadan (surya)

KLIK SAJA - Ramadan bakal terjadi dua kali dalam satu tahun? Jika melihat kalender, fenomena unik ini diperkirakan akan terjadi pada tahun 2030.

Ramadhan pertama jatuh pada 4 Januari 2030 dan berakhir pada 2 Februari 2030. Lalu, Ramadhan kedua akan dimulai pada 26 Desember 2030

Sekilas hal tersebut terdengar janggal, namun secara ilmiah—terutama jika ditinjau dari sudut pandang fisika dan astronomi—peristiwa ini sepenuhnya dapat dijelaskan.

Maka untuk memahami fenomena tersebut, kita perlu melihat bagaimana manusia sejak dahulu mengukur waktu dengan memanfaatkan gejala alam yang bersifat periodik, yakni peristiwa yang berulang secara teratur.

Rotasi Bumi menjadi dasar penentuan waktu harian, yang membedakan siang dan malam.

Sementara itu, revolusi Bumi mengelilingi Matahari menjadi acuan penentuan satu tahun dalam kalender Masehi.

Di sisi lain, gerak Bulan mengelilingi Bumi telah lama digunakan sebagai dasar penanggalan lunar, termasuk kalender Hijriah.

Dalam kajian astronomi, gerak periodik Bulan dibedakan menjadi dua, yakni periode sideral dan periode sinodik.

Periode sideral adalah waktu yang dibutuhkan Bulan untuk menyelesaikan satu putaran penuh mengelilingi Bumi relatif terhadap bintang-bintang tetap di langit, dengan lama sekitar 27,32 hari.

Artinya, setelah rentang waktu tersebut, Bulan kembali ke posisi semula jika dibandingkan dengan latar belakang bintang yang jauh.

Adapun periode sinodik adalah waktu yang dibutuhkan Bulan untuk kembali ke fase yang sama, misalnya dari bulan baru ke bulan baru berikutnya, dengan lama sekitar 29,53 hari.

Periode sinodik inilah yang menjadi dasar penentuan bulan dalam kalender Hijriah.

Perbedaan antara kedua periode tersebut terjadi karena Bulan tidak hanya mengorbit Bumi, tetapi juga ikut bergerak bersama Bumi yang mengelilingi Matahari.

Ketika terjadi bulan baru atau konjungsi, Bulan berada segaris dengan Matahari dan Bumi. Setelah itu, Bulan harus bergerak sedikit lebih jauh untuk kembali pada posisi segaris yang sama karena Bumi sendiri telah berpindah posisi dalam orbitnya.

Halaman:

Tags

Terkini