teknologi

Mengenal Konsep Kalender Jawa, Warisan Astronomi Leluhur Nusantara yang Adiluhung

Minggu, 4 Januari 2026 | 22:50 WIB
ilustrasi kalender Jawa (netral news)

KLIK SAJA - Kalender Jawa merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang sarat akan nilai sejarah dan makna filosofis.

Hingga kini, sistem penanggalan ini masih dipercaya dan digunakan oleh sebagian masyarakat Jawa, terutama dalam konteks adat, tradisi, dan kepercayaan.

Sebagaimana kalender Masehi, kalender Jawa terdiri atas 12 bulan. Namun, penamaan hari, bulan, serta sistem perhitungannya berbeda.

Kalender Jawa memiliki sejarah panjang yang unik karena merupakan hasil akulturasi antara penanggalan Saka (Hindu) dan penanggalan Islam.

Sistem ini juga dikenal dengan sebutan Kalender Sultan Agungan, karena disusun pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613–1645).

Sejarah Lahirnya Kalender Jawa

Kalender Jawa mulai digunakan secara resmi sebagai kalender negara pada masa Sultan Agung. Tujuannya adalah untuk menyeragamkan perayaan hari-hari besar adat Jawa dengan hari-hari besar Islam.

Kalender Jawa tidak hanya berfungsi sebagai sistem penanggalan negara, tetapi juga sebagai alat pemersatu tradisi dan agama.

Meski tidak lagi digunakan secara administratif, kalender ini tetap bertahan sebagai pedoman budaya.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Metatah, Upacara Adat Potong Gigi Masyarakat Hindu Bali

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, kalender Jawa kerap digunakan untuk menentukan hari baik, seperti untuk pernikahan, khitanan, upacara kematian, pendirian rumah, hingga waktu bepergian.

Masuknya Islam ke Kerajaan Mataram Islam membawa pengaruh besar terhadap sistem penanggalan.

Sultan Agung kemudian mengubah kalender Saka yang semula berbasis peredaran Matahari menjadi sistem berbasis peredaran Bulan, mengikuti kalender Hijriah.

Konon dikisahkan, pada tahun 1633 M, saat Sultan Agung melakukan ziarah ke makam Sunan Bayat di Tembayat.

Halaman:

Tags

Terkini