KLIK SAJA - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin meluas di dunia kerja kini memunculkan kekhawatiran, terutama bagi Generasi Z (Gen Z) yang bekerja di sektor teknologi.
Menurut ekonom senior Goldman Sachs, Joseph Briggs, Gen Z berada di posisi paling berisiko untuk digantikan oleh teknologi AI.
Briggs menyatakan bahwa meskipun adopsi AI di lingkungan kerja global masih dalam tahap awal pada tahun 2025, dampaknya sudah mulai terlihat nyata.
Ia menilai revolusi AI membawa peluang sekaligus ancaman besar, terutama bagi pekerja Gen Z di bidang teknologi.
Baca Juga: Dampak AI Kian Nyata: 41% Perusahaan Diprediksi Lakukan PHK Massal Hingga 2030
Menurut data Goldman Sachs, ancaman nyata terlihat dari tingkat pengangguran di kalangan orang berusia 20 hingga 30 tahun yang naik sekitar 3 poin persentase sejak awal 2025.
Briggs menyebut, kenaikan ini jauh lebih tinggi dibandingkan pekerja senior atau profesional di sektor lain.
Dampak lain yang terlihat adalah turunnya jumlah lowongan kerja.
Data terbaru menunjukkan, lowongan untuk posisi pemula di sektor teknologi di Amerika Serikat (AS) turun 35 persen sejak 2023 lalu.
Kendati demikian, peluang dari revolusi AI kian tampak salah satunya dari strategi yang kini banyak dipilih Gen Z dengan mengikuti pelatihan intensif atau mengambil sertifikasi teknologi tertentu.
Selain itu, semakin banyak Gen Z yang melirik jalur kewirausahaan.
Baca Juga: Mengenal Agrivoltaic, Metode Kombinasi Pertanian dan Pemanfaatan Energi Surya
Dengan modal keterampilan digital, mereka mencoba membangun usaha sendiri untuk menghindari ketergantungan pada perusahaan besar.
"Namun, tak sedikit pula yang merasa pesimistis. Revolusi AI yang berlangsung cepat dipandang bisa semakin menyulitkan mereka membangun karier jangka panjang di sektor ini," terang Briggs.