KLIK SAJA - Prasasti Tugu merupakan catatan tentang titah seorang raja bernama Purnawarman pada kurun tahun ke-22 di masa pemerintahannya untuk melakukan penggalian dua kanal.
Ditemukan di Kampung Tugu sekitar abad 19 oleh masyarakat sekitar.
Hingga Pada 4 Maret 1879, 'perkumpulan batavia untuk kesenian dan ilmu', atau Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, memutuskan untuk memindahkan batu yang ditemukan oleh JA Van der chijs ini ke museum.
Tahun 1911 secara resmi prasasti ini dipindahkan ke museum perkumpulan ini, atas usaha P De Roo de La Failler.
Saat ini museum perkumpulan para pencinta warisan purbakala dan sejarah ini dikenal sebagai Museum Nasional yang ada di Jl Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
Diceritakan pada prasasti, Purnawarman memerintahkan untuk menggali Sungai Chandrabaga dan Sungai Gomati.
Seperti diketahui nama Chandrabaga konon adalah nama yang lambat-laun menyebal menjadi nama kota Bekasi.
Dimana Asalnya adalah Chandrabaga, menjadi Bagasasi, dan kemudian menjadi Bekasi.
Penggalian pertama adalah penggalian Sungai Chandrabaga yang gunanya mengalirkan air yang berasal dari hulu, yang alirannya berada di tepian istana Raja Purnawarman yang termasyhur, agar bisa langsung mengalir ke laut.
Prasasti kemudian melukiskan Raja Purnawarman yang mulia sebagai seorang raja yang memiliki lengan yang kencang dan kuat, bisa diartikan memiliki kekuasaan dan kekayaan, dapat memerintahkan penggalian sungai sepanjang 6.122 tumbak atau sepanjang kurang lebih 12 kilometer yang bernama Gomati.
Proyek penggalian itu tercatat selesai dalam waktu 21 hari sejak tanggal 8 paro-gelap, bulan Phalguna dan selesai tanggal 13 paro-terang, bulan Caitra.
Prasasti Tugu, selanjutnya mencatat bahwa Sungai Gomati yang permai dan berair jernih dapat mengalir di tengah-tengah kediaman yang mulia Neneknda Sang Purnawarman.
Untuk memberkahi pembangunan dua kanal penting itu, para brahmana mengorbankan sekitar 1.000 ekor sapi.
Berikut merupakan bunyi inskripsi yang ada di Prasasti Tugu