Kemampuan ini akan maksimal dan sempurna jika dijalankan dengan sistem Thinking, yaitu cara berpikir dengan berfokus pada sistem berinteraksi, bukan sekedar tekstual.
"Apapun bidang Anda, mau itu matematikawan, komputer, scientist, Anda harus punya keahlian Human Focus Skills. Dan yang kedua Anda harus punya sistem Thinking, " ungkapnya.
Beliau mengatakan, jika manusia mampu mensinergikan keduanya, maka sudah tidak ada lagi persaingan antara teknologi AI dengan manusia.
Prof Stella memiliki harapan, dua hal tersebut bisa dijadikan pembelajaran berpikir manusia di tengah penggunaan teknologi AI yang makin tak sesuai peruntukannya.
Stella Christie adalah seorang akademisi, ilmuwan kognitif asal Medan, Sumatera Utara, Indonesia yang lahir pada 11 Januari 1979.
Baca Juga: Berapa Sih Gaji Menteri dan Wamen Kabinet Merah Putih Pada Pemerintahan Prabowo Gibran?
Stella memperoleh gelar sarjana dari Harvard University serta gelar mentereng Ph.D. dari Northwestern University dalam bidang psikologi kognitif.
Kondisi terkini ia merupakan guru besar di Tsinghua University, Beijing, Tiongkok, di mana pada perguruan tinggi bergengsi tersebut ia memegang posisi sebagai Research Chair di Tsinghua Laboratory of Brain and Intelligence.
Bahkan Stella pun juga menjabat Direktur Child Cognition Center
Dalam kehidupan pribadinya, Stella menikah dengan Bartlomiej Czech, seorang ilmuwan Polandia yang pernah menempuh pendidikan di Universitas Harvard dan Universitas Pennsylvania dengan gelar doktor.
Mereka pun kini sudah memiliki seorang putra bernama Bayu Czech.***