Lalu, Desain yang menyesuaikan karakter bangunan, termasuk pemilihan warna dan material netral.
Kemudian, Penilaian dampak warisan budaya (Heritage Impact Assessment) untuk memastikan pelestarian tetap menjadi prioritas utama.
Jika pemasangan stairlift dianggap kurang cocok, tersedia alternatif lain seperti ramp portabel, platform lift, atau elevator mini.
Solusi ini dapat dipertimbangkan sesuai struktur bangunan dan kebutuhan pengunjung.
Meski menimbulkan pro-kontra, langkah ini menunjukkan perhatian pemerintah terhadap inklusivitas dalam pariwisata budaya.
Selama dilakukan dengan prinsip pelestarian, upaya memfasilitasi aksesibilitas di situs warisan seperti Borobudur bisa menjadi model berkelanjutan untuk destinasi lain di Indonesia.***