Ketika dimainkan bersamaan dengan alat musik lain seperti kolintang, gong, dan tifa, suara Salude memberikan sentuhan ritmis dan harmonis yang khas, membuat suasana lebih hidup dan sakral.
Dibalik keindahan suara Salude, terdapat proses pembuatan yang rumit. Para perajin harus memilih bambu terbaik, memotong satu ruas bambu besar, melubanginya, lalu memasang dawai dari kulit ari bambu.
Bambu juga berfungsi sebagai resonator alami, memperkuat suara yang dihasilkan.
Tidak jarang, Salude dihias dengan ukiran tradisional atau cat warna-warni khas Minahasa, menambah keanggunan visualnya.
Sayangnya, keberadaan Salude kini semakin langka. Minimnya generasi muda yang tertarik mempelajari atau membuat alat musik ini menjadi tantangan besar dalam upaya pelestarian.
Padahal, Salude bukan hanya alat musik, melainkan identitas budaya dan sejarah panjang masyarakat Sulawesi Utara.***
Menjaga Salude berarti melestarikan akar budaya, menyambung generasi, dan menghargai keindahan warisan seni leluhur yang nyaris terlupakan.***