Hal tersebut bisa terlihat pada peristiwa Aurora Borealis pada Kutub Utara, yaitu peristiwa pita-pita cahaya beriak di langit.
Pertunjukan cahaya ini merupakan hasil dari angin matahari yang berinteraksi dengan magnetosfer kita.
Interaksi tersebut membangkitkan atom-atom di udara, menghasilkan tirai warna yang cerah.
Hijau limau adalah warna yang paling sering disaksikan, merupakan hasil dari atom-atom oksigen yang berenergi.
Sementara itu, jauh di bawah permukaan Bumi, besi cair mengelilingi inti logam padat.
Baca Juga: Mengenal Fenomena Alam Sundog, Ketika Matahari Menjadi Tiga di Langit
Logam cair yang bergejolak ini menghasilkan medan magnet planet kita, lalu angin matahari membentuk magnetosfer kita menjadi bentuk seperti komet.
Partikel bermuatan menghantam sisi magnetosfer yang menghadap matahari, meratakan medan magnet hingga jarak sekitar 10 kali radius Bumi.
Namun, di sisi lain, angin matahari tersebut menyeret magnetosfer ke dalam apa yang disebut ekor magnet.
Ekor magnet membentang sekitar 10 kali lebih panjang dari medan sisi siang hari.
Hingga kini, para ilmuwan masih terus meneliti seberapa lama usia magnetosfer di Bumi ini bisa bertahan, dan apa yang menjadi penyebabnya.***