Ia tumbuh di Ashaiman, salah satu lingkungan miskin dan padat penduduk di Tema, pusat industri dan pelabuhan yang berjarak satu jam perjalanan ke timur ibu kota, Accra.
Dia memiliki lima saudara perempuan.
Kemudian, ia ingin mengikuti jejak dua saudara perempuannya dan belajar administrasi bisnis di universitas.
Dan tanpa disangka di bangku kuliah, bakat matematikanya justru terasah tajam dan dikenal dunia.
Populasi Afrika yang tumbuh cepat, sudah menjadi yang termuda di dunia, akan menjadi tenaga kerja terbesar di dunia pada tahun 2040, menurut PBB.
Baca Juga: Mengenal Pustaha Laklak, Karya Sastra Kuno Etnis Batak
Ia berharap dapat menyelenggarakan "pertunjukan keliling kuantum" sebagai langkah pertama dalam memperkenalkan sains kuantum kepada anak-anak sekolah sejak usianya jauh lebih dini.
Pertunjukan keliling tersebut akan didasarkan pada kursus komputasi kuantum terkini yang ia bantu atur untuk siswi sekolah menengah yang mengikuti kelas di Aims Ghana selama liburan mereka.
Kursus tersebut membahas apa yang dibutuhkan untuk membangun komputer kuantum, kelemahannya saat ini, dan tantangan yang ditimbulkan komputasi kuantum pada sistem saat ini, seperti kriptografi.
Bekerja sama dengan Unesco, Dr Tabiri juga akan menyelenggarakan "Quantum Hackathon" selama seminggu pada bulan Juli di Aims-Ghana untuk sekitar 40 mahasiswa pascasarjana dari berbagai negara Afrika.***