Banyaknya industri yang berdiri akan menambah permintaan jumlah pasokan ikan segar untuk menyokong produksi industri.
Diperkirakan sebanyak 64.803 ton ikan diprediksi akan dibutuhkan setiap tahunnya untuk mendukung kelangsungan produksi industri.
Berdasarkan Kementerian UMKM dan Koperasi, estimasi pendapatan yang bisa dihasilkan nelayan mencapai RRp 648 miliar per tahun.
HPI yang dihasilkan bahkan diestimasi bisa mencapai 12.300 ton per tahun dengan nilai ekonomi HPI mencapai Rp 1,8 triliun per tahun.
Subtitusi pada akhirnya juga bisa menumbuhkan lebih dari 593 unit industri susu ikan.
Output dari produksi susu ikan jika dihitung akan bisa mencapai 41.000 ton per tahun dengan nilai ekonomi sebesar Rp 4 triliun per tahun.
Subtitusi ini juga bisa memanfaatkan ikan yang selama ini terbuang, karena tidak dikonsumsi.
Baca Juga: Presiden Prabowo Lantik Para Punggawa Luhut Dalam Rumuskan Kebijakan Ekonomi
Diperkirakan dari data dinas Perikanan, 1 dari 3 ikan yang ditangkap tidak pernah sampai ke piring konsumen.
Bahkan, Sebanyak 35 pesen dari total produksi perikanan tangkap global sebesar 90,3 juta ton terbuang sia-sia.
Ikan yang terbuang Sebagian besar berasal dari sortiran sistem tangkapan pukat (bycatch).
Nelayan memilih membuang karena ikan bycatch tidak memiliki nilai jual dan tidak ada marketnya ketika di tempat pelelangan ikan.
Pemanfaatan susu ikan ini juga bisa mengangkat kelas dari profesi nelayan.
Hal ini dikarenakan nelayan masih merupakan profesi termiskin di Indonesia.
Dari data BPS, sebanyak 90 persen dari 16,2 juta nelayan di Indonesia masih hidup di Bawah garis kemiskinan.