Menurutnya, metode tersebut penting untuk menguji berbagai bukti secara ilmiah dan tidak hanya mengandalkan satu versi kejadian.
Pemeriksaan yang diminta mencakup kondisi jenazah hingga senjata api yang disebut digunakan dalam kejadian.
“Polisi harus melalui scientific crime investigation yang meliputi autopsi menyeluruh, pemeriksaan balistik, uji gunshot residue atau GSR, pemeriksaan DNA dan sidik jari pada senjata api, analisis pola percikan darah, rekonstruksi TKP, pemeriksaan bukti elektronik, serta pemeriksaan seluruh saksi secara obyektif. Udah belum?” jelasnya.
Rieke juga menekankan bahwa setiap bukti perlu diperiksa untuk memastikan rangkaian kejadian dapat diketahui secara objektif.
Dengan pendekatan tersebut, berbagai kemungkinan penyebab kematian dapat diuji berdasarkan bukti yang tersedia.
Pemeriksaan Senjata Api Dinilai Perlu Didalami
Senjata api milik Bripka IH menjadi salah satu bagian yang disoroti Rieke dalam kasus kematian Winda.
Polisi sebelumnya menyebut senjata tersebut digunakan Winda untuk melakukan bunuh diri setelah diambil dari tempat penyimpanannya.
Rieke meminta aspek balistik serta bukti lain yang berkaitan dengan senjata tersebut diperiksa secara menyeluruh.
Pemeriksaan juga dapat mencakup DNA, sidik jari, dan gunshot residue atau GSR sebagaimana disampaikan Rieke.
Tujuannya adalah memastikan fakta berdasarkan bukti forensik, bukan hanya berdasarkan satu dugaan.
Pemeriksaan senjata menjadi salah satu bagian penting dalam penyelidikan karena berkaitan langsung dengan kronologi kematian yang disampaikan kepolisian.
Rieke Ingatkan Polisi Harus Transparan
Rieke juga menyoroti pentingnya transparansi dalam proses penyidikan kasus kematian Winda.
Ia menilai persoalan tersebut menjadi semakin penting karena kasus berkaitan dengan anggota kepolisian dan penggunaan senjata api milik anggota Polri.
Berdasarkan keterangan polisi, senjata tersebut disebut diambil Winda secara diam-diam ketika Bripka IH sedang beristirahat.