Ia menilai pendekatan yang digunakan dalam pelatihan tidak disusun secara matang sesuai kebutuhan calon manajer koperasi.
"Fenomena ini menunjukan bahwa desain pelatihan tidak dipikirkan secara matang atau ceroboh dalam memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan bagi para peserta," kata Agustinus dalam keterangannya, pada Rabu, 24 Juni 2026.
Menurutnya, pelatihan seharusnya lebih berfokus pada kemampuan manajerial yang relevan dengan tugas pengelolaan koperasi.
"Pelatihan militeristik diberikan dalam wujud baris berbaris, lari, apel, dan memegang senjata, yang semuanya itu berbeda atau bahkan jauh berbeda dari tugas manajer koperasi," jelas Agustinus.
"Lebih tepat dikelola dengan model kepemimpinan sipil, bukan model kepemimpinan militer," tandasnya.***