Informasi tersebut ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial.
Sebagian kalangan menilai pelatihan yang dijalani lebih menitikberatkan pada pendekatan militer dibandingkan pelatihan manajerial koperasi.
Karena itu, muncul perdebatan mengenai kesesuaian materi pelatihan dengan tugas yang akan dijalankan para peserta.
Namun hingga kini belum ada data resmi yang diumumkan pemerintah terkait jumlah peserta yang benar-benar mengundurkan diri.
Isu tersebut tetap menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan publik.
Baca Juga: Informasi Jadwal dan Tarif KM Dharma Kartika 9 Rute Balikpapan ke Parepare Periode 1 – 15 Juli 2026
Menteri Desa Menyebut Latsarmil Bertujuan Membentuk Kekompakan
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Yandri Susanto, sebelumnya menjelaskan alasan di balik pelaksanaan Latsarmil.
Menurutnya, para peserta berasal dari berbagai latar belakang sehingga membutuhkan pembentukan karakter bersama.
"Karena kan berbagai latar belakang, masih muda-muda, perlu penebalan rasa cinta terhadap bangsa dan negara," kata Yandri dalam keterangannya, pada Selasa, 23 Juni 2026.
Ia menilai pelatihan tersebut penting untuk membangun disiplin, mental, dan semangat kebersamaan.
"Perlu semangat, perlu upgrade jiwa raganya. Dan itu memang perlu pelatihan khusus. Kemudian, kenapa dibarengkan? Mereka melihat kebersamaan, kekompakan," beber Yandri.
"Sehingga dengan kebersamaan itu, timbul bahwa mereka semua merasa harus berhasil," tambahnya.
Pakar UGM Menilai Materi Pelatihan Tidak Relevan dengan Tugas Manajer
Kritik terhadap desain pelatihan datang dari Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono.