Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ruang publik yang sebenarnya punya potensi besar tetapi belum teraktivasi maksimal.
Menurut MCF, tidak ada ruang negatif di Kota Malang karena semua sudut kota bisa dihidupkan lewat kreativitas.
Ruang seperti taman kota, sudut jalan, dan area publik lain dianggap dapat menjadi tempat interaksi kreatif masyarakat.
Konsep ini diharapkan memicu komunitas untuk lebih aktif memanfaatkan ruang kota secara positif.
Pendekatan tersebut juga dianggap relevan untuk pengembangan ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya digital.
MCF ingin ruang kota lebih hidup lewat kreativitas warga
Koordinator Malang Creative Fusion, Dadik Wahyu Chang, menyebut gerakan ini bukan sekadar event biasa.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan prototype aktivasi ruang kota berbasis kolaborasi komunitas kreatif.
“Hari ini kita belajar bahwa kota punya banyak passive space yang sebenarnya bisa dihidupkan,” ujar Dadik.
Menurutnya, taman kota hingga ruang publik lain punya peluang besar menjadi ruang kreativitas masyarakat.
MCF ingin ruang-ruang yang selama ini pasif mulai menyala lewat seni, budaya, dan teknologi kreatif.
“Gerakan ini bukan sekadar event, tetapi prototype bagaimana ruang kota dapat diaktivasi secara positif, artistik, kondusif, dan kolaboratif,” lanjutnya.
Dapat dukungan ICCN hingga focal point UNESCO
Acara ini turut dihadiri berbagai tokoh dan jejaring ekonomi kreatif nasional.