Kondisi ruang belajar tersebut jauh dari standar kenyamanan yang ideal bagi siswa sekolah dasar.
Meski begitu, proses belajar tetap berjalan agar siswa tidak tertinggal pelajaran.
4. Bangunan Kelas Berasal dari Swadaya Masyarakat
Bangunan sederhana tersebut diketahui merupakan hasil swadaya masyarakat sekitar sekolah.
Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2016 sehingga kondisi bangunan sudah cukup lama tidak diperbarui.
Keterlibatan masyarakat menunjukkan kepedulian terhadap pendidikan anak-anak di daerah tersebut.
Namun, upaya swadaya tentu memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikan yang layak.
Perbaikan fasilitas sekolah membutuhkan dukungan yang lebih luas agar kualitas pendidikan meningkat.
Kondisi ini menjadi perhatian banyak pihak yang berharap adanya perbaikan sarana belajar.
5. Siswa Harus Bergantian Menggunakan Ruang Kelas
Jumlah ruang kelas yang terbatas membuat siswa harus bergantian menggunakan ruangan yang tersedia.
Siswa kelas 3 terkadang menunggu hingga kelas lain selesai menggunakan ruang belajar.
Saat cuaca mendukung, kegiatan belajar dilakukan di luar ruangan untuk menghemat penggunaan kelas.