KLIK SAJA - Perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia terus menunjukkan dinamika yang semakin kompleks.
Indonesia Creative Cities Network (ICCN) mengajak masyarakat menjadikan peristiwa yang menimpa salah satu pelaku jasa kreatif dalam proyek pembuatan video profil desa sebagai momentum pembelajaran bersama.
Kasus tersebut dinilai memperlihatkan bahwa sektor ekonomi kreatif membutuhkan pendekatan yang berbeda dibanding sektor berbasis barang atau konstruksi.
Nilai sebuah karya kreatif tidak hanya dilihat dari bahan yang digunakan, tetapi juga dari ide, kreativitas, hingga kekayaan intelektual yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, dibutuhkan pemahaman bersama agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menilai jasa kreatif.
ICCN menilai momentum ini penting untuk mendorong pembenahan sistem yang lebih relevan dengan karakter industri kreatif.
Produk Kreatif Tidak Bisa Dinilai Hanya dari Biaya Fisik
Ketua Umum Tb Fiki C Satari menilai pendekatan lama dalam menilai produk kreatif masih terlalu berfokus pada aspek fisik.
Padahal, karya kreatif memiliki komponen ide, proses kreatif, hingga kekayaan intelektual yang tidak selalu terlihat secara kasat mata.
Nilai kreativitas sering kali terbentuk dari pengalaman, riset, eksplorasi konsep, serta kemampuan teknis pelaku industri kreatif.
Jika hanya dihitung berdasarkan bahan dan alat, maka nilai karya berpotensi direduksi secara tidak adil.
Hal ini dapat berdampak pada rendahnya penghargaan terhadap profesi kreatif di Indonesia.