KLIK SAJA - Gelar sarjana akuntansi biasanya mengantarkan seseorang menuju gedung-gedung perkantoran di kota besar.
Namun jalan berbeda dipilih Wahyudin. Pemuda kelahiran 1988 itu justru kembali ke kampung halamannya di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, memilih memegang cangkul dan sepatu bot.
Keputusan pria yang akrab disapa Kang Wahyu ini lahir dari kegelisahan panjang.
Bertahun-tahun ia menyaksikan desanya berada dalam bayang-bayang aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Himpitan ekonomi dan rusaknya infrastruktur irigasi akibat bencana pada 2020 membuat sebagian warga nekat mencari nafkah di lubang-lubang tambang, mempertaruhkan nyawa demi penghasilan yang tak menentu.
“Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” kata Wahyu.
Bagi Kang Wahyu, jawaban atas krisis itu sesungguhnya berada tepat di bawah kaki mereka sendiri: tanah pertanian yang sempat ditinggalkan.
“Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak,” tegasnya.
Titik Balik 2022
Gayung bersambut pada 2022. Kegelisahan Wahyu sejalan dengan visi PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) UBPE Pongkor yang menghadirkan program inovasi sosial Garitan Kalongliud.
Baca Juga: Bagikan ke Keluarga! Jadwal Puasa 2026 Pasaman Barat Full Sebulan, Imsak hingga Isya Resmi
Namun Wahyu tidak sekadar menjadi penerima manfaat. Ia memilih berdiri di garis depan.
Sebagai penggerak Kelompok Taruna Muda, ia mengajak pemuda desa menghidupkan kembali 35 hektar lahan terlantar.