Dari sinilah mimpi para ibu untuk membangun usaha kopi mulai dirintis.
Potensi lokal diolah menjadi peluang ekonomi.
Wanagiri pun perlahan dikenal lewat kopi hasil tangan perempuan.
Pilihan Kopi Robusta dan Arabika Jadi Identitas Kelompok
Baca Juga: Kepolosan Anak Aceh Tamiang Jadi Penawar Duka, Tawa Mereka Tegar Menghadapi Bencana dan Rumah Runtuh
Ni Nyoman Budiani, yang akrab disapa Ani, menjelaskan alasan memilih kopi sebagai fokus usaha.
“Kopi dipilih karena potensi unggulan Desa Wanagiri. Di desa saya ini, ada jenis kopi robusta dan arabika. Jadi, karena potensi bahan baku saat itu, kami coba dulu pengolahan kopi robusta, lalu arabika,” ceritanya.
Dari keputusan itu, KWT mulai belajar mengolah kopi dari nol.
Tak hanya menjual biji mentah, mereka berani masuk ke proses produksi sendiri.
Langkah ini menjadi awal identitas KWT Sari Amerta Giri sebagai penghasil kopi desa.
Perlahan, kualitas dan cita rasa mulai diperhitungkan. Semua lahir dari keberanian mencoba.
Tak Hanya Kopi, Inovasi Produk Terus Dikembangkan
Baca Juga: Kearifan Lokal Selamatkan Hidup, Air Sungai di Aceh Tamiang Disaring Warga Jadi Layak Guna
Selain kopi bubuk, kelompok ini juga mengembangkan beragam produk lain.
Mulai dari ekstrak jahe, jamu kunyit asam, keripik, hingga roti berbahan dasar talas.