Mereka hanya ingin mencari kebutuhan pokok yang kian menipis.
Jalan licin dan penuh risiko tetap dilalui demi bertahan hidup.
"Orang-orang pun ke sini jalan kaki untuk mencari sesuap nasi," tuturnya.
Kalimat itu menggambarkan kerasnya realita yang dihadapi warga Bener Meriah.
Baca Juga: Info Penting! Jadwal dan Rute Kapal Pelni KM Tidar Periode Januari 2026
Bencana tak hanya merusak rumah, tapi juga jalur kehidupan mereka.
Empati dan Harapan di Tengah Sisa Bencana
Melihat kegigihan warga, relawan itu tak kuasa menahan rasa iba.
Ia merasakan langsung beratnya beban yang harus dipikul masyarakat setempat.
Setiap langkah warga seolah menjadi simbol perjuangan hidup di tengah keterbatasan.
"Sulit, sedih lihatnya. Kayak beginilah perjuangan mereka cari nafkah, cari sesuap nasi," imbuhnya.
Di tengah rasa lelah, empati justru semakin menguat.
Baca Juga: Tambang Gunung Tumpang Pitu Kembali Bergolak, Begini Aksi Warga Banyuwangi yang Bikin Tegang
Satu-satunya harapan kini tertuju pada percepatan pembersihan akses jalan.
"Harapanku semoga cepat selesai jalur ini, supaya kita gampang untuk bawa logistik," katanya penuh harap.