Bagi warga, setiap kayu yang berserakan sama-sama mengganggu pemulihan.
Sindiran itu mencerminkan rasa kecewa yang mendalam. Warga hanya ingin kampung mereka kembali normal.
4. “Kalau Bisa Semua Lah Diangkat”, Tuntutan Bersih Total
Protes itu tak berhenti pada satu kalimat saja. Warga kembali menegaskan harapan mereka agar semua kayu diangkut tanpa pilih-pilih.
Baca Juga: Bukan Sekadar Viral, Ini Kisah Nyata Ibu di Tapanuli Tengah Bertaruh Tenaga demi Sekantong Sembako
"Kalau bisa semua lah diangkat," lanjutnya.
Ucapan ini menunjukkan bahwa warga lebih membutuhkan lingkungan bersih ketimbang sekadar melihat kayu bernilai tinggi dibawa pergi.
Mereka merasa kehadiran oknum pengangkut kayu tak banyak membantu kondisi desa.
Justru sebaliknya, menimbulkan kesan memanfaatkan situasi darurat.
Bagi warga, pembersihan total adalah kunci pemulihan. Tanpa itu, trauma bencana sulit terobati.
5. Amarah Ibu-Ibu Meledak: “Jangan Rakus Kalian!”
Ketegangan memuncak ketika sejumlah ibu-ibu di lokasi tak lagi mampu menahan emosi.
Mereka melontarkan sumpah serapah karena merasa lingkungan mereka dijadikan ladang bisnis.
Dengan nada penuh amarah, seorang warga berteriak, "Jangan rakus kalian, nanti diazab oleh Allah!"