"Lumpur di dalam dibuang ke luar, yang di luar ini dibuang ke mana?" tulis warga dalam keterangan video itu.
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa rumitnya kondisi yang mereka hadapi.
Di dalam rumah penuh lumpur, di luar pun tak jauh berbeda.
Situasi ini membuat pekerjaan terasa seperti tak ada ujungnya.
Baca Juga: Lonjakan Penumpang Kereta Api di Stasiun Tawang Semarang Saat Libur Nataru Capai 67.422 Orang
Luka di Kaki, Bukti Beratnya Perjuangan Fisik
Tak hanya mental yang terkuras, tubuh para warga pun mulai menunjukkan dampaknya.
Terus-menerus berkutat dengan air kotor dan lumpur membuat kulit mereka bermasalah.
Kaki yang setiap hari terendam mulai mengalami iritasi dan luka.
"Kaki sudah hancur semua karena kena air terus setiap hari," ungkapnya lirih.
Kalimat itu menjadi bukti bahwa proses pembersihan bukan perkara ringan.
Di balik semangat bangkit, ada rasa perih yang harus ditahan.
Namun mereka tetap melanjutkan, karena rumah adalah segalanya.
Di Ujung Tenaga, Doa Jadi Satu-satunya Pegangan