Menurutnya, status nasional akan membuka jalan bagi dukungan lebih cepat, lebih besar, dan lebih terstruktur.
Desakan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa jika penanganan lambat, korban jiwa dan kerusakan bisa bertambah.
Respon Pemerintah Pusat
Sikap pemerintah pusat justru berbeda. Saat meninjau langsung lokasi bencana di Tapanuli Tengah pada 1 Desember 2025, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa status bencana belum perlu dinaikkan.
Baca Juga: Di Tengah Ketidakpastian Global, BRI Justru Melesat, Ini 7 Bukti Kuatnya Tata Kelola Mereka
“Kita monitor terus. Saya kira kondisi yang sekarang ini sudah cukup,” ujar Prabowo.
Meski demikian, ia tetap memberikan apresiasi kepada seluruh instansi yang bekerja keras.
“Kita hadapi musibah ini dengan tabah dan dengan solidaritas negara kita kuat sekarang, mampu untuk mengatasi,” tambahnya.
Pernyataan ini menimbulkan diskusi publik, apakah penanganan saat ini benar-benar memadai atau justru perlu eskalasi agar lebih cepat?
TNI–Polri Hingga Relawan Tetap Berjuang di Lapangan
Terlepas dari perbedaan pandangan antara daerah, DPRD, dan pemerintah pusat, para petugas di lapangan tetap berjuang di tengah cuaca buruk.
Evakuasi, pencarian korban, distribusi logistik, hingga pemulihan fasilitas terus dilakukan.
Semangat ini yang menjadi pondasi utama penanganan bencana di Indonesia meski di tengah keterbatasan, solidaritas masyarakat dan relawan tetap jadi kekuatan terbesar.
Pada titik ini, bencana bukan hanya soal kerusakan, tetapi juga tentang ketahanan sosial yang diuji habis-habisan.