Di sinilah gaya Roy muncul tidak mundur, tidak ragu menyebut fakta, dan tidak khawatir jika langkahnya memaksa pihak lain merespons.
Situasi ini terasa seperti duel narasi: satu membawa dokumen, satu membawa jabatan.
Di tengahnya, publik kembali dijadikan juri spontan. Drama makin panjang tapi Roy tampaknya menikmati posisinya sebagai pemantik.
Rismon Buka Draft Buku, Distribusi Gratis dan Klaim Tak Lulus SMA
Rismon Sianipar, yang mendampingi Roy dalam gerakan ini, sempat memamerkan draft buku “Gibran’s Black Paper” di Polda Metro Jaya.
Baca Juga: Bersahabat! Zohran Mamdani Bertemu Donald Trump Untuk Pertama Kali di Gedung Putih
Ia bahkan menyebut buku itu akan dibagikan secara gratis bahkan dalam kondisi “worst case scenario”, seakan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Rismon juga menegaskan klaim bahwa Gibran tidak pernah lulus SMA, baik dalam maupun luar negeri, merujuk pada data dari Ditjen Dikdasmen.
Klaim itu lalu ditautkan dengan riwayat pendidikan Gibran yang disebut hanya sampai kelas 10 sebelum melanjutkan diploma di Australia.
Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti penyederhanaan yang berlebihan, sementara bagi sebagian lain justru membuka ruang tanya.
Isu ini sudah bergerak terlalu jauh untuk tidak diperbincangkan. Buku belum terbit, tetapi efeknya terasa seperti sudah viral.***