Di era kepemimpinannya, dewan pengawas internal benar-benar aktif memonitor setiap perilaku pegawai.
Kini, ia mempertanyakan apakah mekanisme pengawasan tersebut masih berjalan tajam.
Kritik ini menyoroti bagaimana integritas bukan hanya soal aksi, tetapi juga narasi resmi yang harus presisi.
KPK Harus Terus “Ditantang”, Saut Kagum pada ICW Karena Selalu Menggebuk
Saut mengaku bahwa selama empat tahun menjabat, ia justru senang ketika dikritik oleh Indonesia Corruption Watch.
“ICW itu gebukin saya terus,” katanya, tanpa nada tersinggung. Justru dari tantangan itulah, menurutnya, KPK bisa terus waspada dan tidak terlena.
Ia mengingat bagaimana hampir tiap hari ada unjuk rasa yang membuat KPK tetap “bangun” menghadapi sorotan publik. “Ketika udah mulai nggak ada, jadi percuma,” tambahnya.
Contoh kasus Blok Medan yang dilaporkan tapi tak di-follow up ia jadikan bukti bahwa ritme pengawasan publik kini tak lagi sekuat dulu.
Bagi Saut, lembaga pemberantasan korupsi hanya akan tajam kalau terus dihantam kritik, bukan dipuji secara membabi buta.
Pelantikan Prabowo Dianggap Bikin IPK Indonesia Naik
Saut membeberkan data menarik: indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia naik dari 34 jadi 37 setelah pelantikan Presiden Prabowo.
“Begitu Prabowo dilantik Oktober, Januari tahun ini IPK naik jadi 37,” katanya.
Ia membandingkan Indonesia dengan Nepal yang memiliki IPK 34 angka yang sama ketika ia meninggalkan KPK.