Ia prihatin melihat generasi muda yang kehilangan sopan santun dan mudah melawan guru.
“Kalau akhlak hilang, bangsa ini akan hancur. Orang berilmu tanpa akhlak adalah sumber kehancuran,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pesantren adalah benteng moral bangsa.
“Santri harus menjaga agama, mencintai ulama, dan setia pada republik. Mencintai negeri ini sama pahalanya dengan berbuat baik kepada orang tua,” katanya.
Di akhir tausiyah, KH Matin menyerukan agar para santri terus belajar dan berjuang.
“Hidup santri! Semangat santri! Karena dari santri lah lahir kemerdekaan bangsa ini,” tutupnya disambut tepuk tangan hadirin.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Serang, KH Saifun Nawasi, juga mengapresiasi semangat santri yang hadir. Ia menyebut peringatan Hari Santri tahun ini terlaksana secara mandiri tanpa bantuan pemerintah.
“NU mandiri, kuat, dan bermartabat. Semua biaya dari sumbangan jamaah dan para dermawan,” ujarnya.
Ia menegaskan, semangat gotong royong warga NU adalah bukti nyata cinta santri terhadap bangsa.
“Kita datang bukan karena makanan, tapi karena cinta pada perjuangan para ulama,” tambahnya.
Kendati demikian, Wali Kota Serang, Budi Rustandi, dalam sambutannya mengajak santri meneladani semangat perjuangan dan keikhlasan para ulama.
Baca Juga: 17 Siswa Alami Mual dan Muntah, Begini Kronologi Keracunan Makanan di Kantin SMP Negeri 9 Palopo!
“Santri bukan hanya identik dengan kitab kuning, tapi juga penjaga moral bangsa dan pelopor persatuan,” katanya.
Pemerintah Kota Serang, lanjutnya, berkomitmen memperkuat peran pesantren dan memperluas kerja sama dengan ormas Islam.