nasional

Menguak Alasan di Balik Penggunaan Ikan Hiu dalam Menu Makan Bergizi Gratis yang Berujung Keracunan

Jumat, 26 September 2025 | 11:36 WIB
Menguak Alasan di Balik Penggunaan Ikan Hiu dalam Menu Makan Bergizi Gratis yang Berujung Keracunan (BGN menyebut menu MBG menggunakan kearifan lokal yang sudah biasa dikonsumsi. (Instagram/badangizinasional.ri))

Mengenai permasalahan alergi, menurut Nanik sudah diantisipasi oleh BGN dengan melakukan pendataan alergi kepada para siswa calon penerima manfaat.

“Ada catatannya, tapi ternyata mungkin ada sekolah-sekolah yang terlewat,” imbuhnya.

Hasil investigasi yang dilakukan oleh BGN, kata Nanik menunjukkan tak semua kasus karena keracunan tetapi juga karena alergi.

Menu Kearifan Lokal yang Sempat Jadi Kontroversi

Di awal pelaksanaan program MBG, Kepala BGN Dadan Hindayana sempat menjadi atensi publik karena melontarkan pernyataan serangga sebagai salah satu alternatif menu.

Baca Juga: Mahfud MD Pilih Tolak Jabatan Menko Polhukam di Kabinet Prabowo Karena Alasan Etika Politik

Dadan mengungkapkan jika potensi alam di daerah masing-masing bisa mendukung jalannya program MBG.

“Mungkin saja ada satu daerah suka makan serangga, belalang, ulat sagu, bisa jadi bagian protein,” kata Dadan saat hadir dalam acara Rapimnas Pira Gerindra di Jakarta pada 25 Januari 2025 lalu.

“Itu salah satu contoh ya, kalau ada daerah-daerah tertentu yang terbiasa makan seperti itu, bisa jadi menu di situ,” imbuhnya.

Karena Indonesia negara kepulauan yang tentunya tiap daerah berbeda, dalam pelaksanaan MBG ini tidak memiliki standar nasional untuk menunya.

“Tapi itu contoh bahwa badan gizi tidak menetapkan standar menu nasional, tetapi menetapkan standar komposisi gizi,” tuturnya.

Baca Juga: Adhyaksa Awards 2025 Jadi Sorotan Nasional: Jaksa dari Karanganyar Masuk Nominasi Bergengsi, Siapakah yang Akan Jadi Pemenangnya?

Pernyataan tersebut kemudian melakukan klarifikasi dengan mengatakan ada penyesuaian menu MBG sesuai daerahnya.

“Kami waktu menyampaikannya itu, kan kami sampaikan ada masyarakat tertentu yang suka itu. Jadi, untuk masyarakat yang tidak suka itu, tidak mungkin menggunakan itu,” ujar Dadan di Kompleks Parlemen, Jakarta pada 3 Februari 2025 lalu.

“Itu kan keragaman sumber daya lokal yang bagus juga kalau kita mulai terapkan dan memberikan pelajaran kepada anak-anak bahwa keragaman dan kearifan lokal itu baik juga untuk ketahanan pangan di masing-masing daerah,” tandasnya.***

Halaman:

Tags

Terkini