Untuk memastikan ia menjadi orang pertama yang memperoleh rempah-rempah tersebut, ia merahasiakan informasi ini dari hampir semua orang di Salem, kecuali pamannya, pedagang Salem bernama Jonathan Peele, yang membantunya mendapatkan kapal schooner dan kemudian turut serta dalam penjualan rempah tersebut.
Carnes kembali dari Sumatra dengan muatan lada menggunakan kapal Schooner Rajah pada tahun 1797, setelah serangkaian upaya yang gagal dan beberapa kecelakaan kapal di tahun-tahun sebelumnya.
Lada pada masa itu hampir setara dengan emas, karena berfungsi sebagai pengawet makanan.
Sebelum adanya bahan pengawet modern, rempah-rempah seperti lada sangat berguna untuk mengawetkan daging.
Diperkirakan nilai muatan lada yang dibawa ke Salem melalui Rajah mencapai sekitar 125.000 dollar AS pada tahun 1797, yang setara dengan sekitar 1,5 juta dollar AS saat ini.
Selama kurang lebih 50 tahun berikutnya, mayoritas lada yang digunakan di banyak negara datang melalui pelabuhan Salem.
Pada awal abad ke-19, perdagangan tersebut membantu Salem menjadi kota dengan kekayaan per kapita tertinggi di Amerika Serikat.
Meskipun perdagangan Salem dengan Tiongkok dan negara-negara Asia Timur kemudian mencakup komoditas lain seperti teh, sutra, dan porselen, pelayaran untuk lada Sumatra merupakan salah satu usaha dagang internasional pertama dan terpenting bagi Salem.
Lambang kota ini ditugaskan untuk dirancang oleh George Peabody pada tahun 1839. Peabody merupakan keturunan dari beberapa pedagang lada terbesar Salem, dan ia sendiri adalah pemilik kapal.
Alih-alih menggambarkan pemandangan kota Salem, Peabody memilih untuk melukiskan sosok pedagang Sumatra sebagai penghormatan terhadap asal mula perdagangan lada tersebut.
Banyak Riwayat mengatakan, tokoh orang Aceh yang ada pada gambar lambang tersebut bernama Po Adam.
Tidak banyak diketahui tentang sosok Po Adam, namun yang jelas ia warga lokal Aceh yang banyak membantu pedagang Salem di masa itu,
Apalagi, hubungan antara Amerika Serikat dengan Aceh sempat bersitegang karena masalah perdagangan lada yang tidak fair pada abad 19.
Sejak tahun 1839, lambang ini digunakan dalam dokumen dan catatan resmi kota Salem hingga kini.
Kini, atas nama sejarah masa lalu, warga Aceh berharap pemerintah Kota Salem tetap mempertahankan lambang tersebut.***