KLIK SAJA - Sebuah temuan mengejutkan membuat geger warga Tegal, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.
Dimana sebuah batu nisan peninggalan era kolonial Belanda, dengan lambang Freemason, ditemukan di halaman depan rumah warga di daerah perbatasan Mejasem, Tegal.
Penemuan ini langsung menyita perhatian komunitas sejarah lokal, sekaligus menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat luas.
Batu nisan tersebut bertuliskan nama Leonard Jean Everhard van Rappard, seorang bangsawan Belanda yang lahir di Batavia pada 10 Juli 1845 dan wafat di “Tagal”—ejaan lama untuk Tegal—pada 31 Mei 1882.
Nama Van Rappard sendiri tercatat dalam sejarah sebagai salah satu keluarga bangsawan yang memiliki posisi penting di Hindia Belanda pada abad ke-19.
Yang paling mencolok adalah lambang Freemason yang terukir jelas di batu nisan itu: sebuah lingkaran bintang dengan penggaris, simbol khas organisasi rahasia yang penuh kontroversi tersebut.
Menurut Bijak Cendekia Sukarno, atau Bung Jeck, seorang pegiat sejarah Tegal yang pertama kali melacak keberadaan nisan ini melalui pemetaan udara Google Earth, temuan ini sangat signifikan.
“Kami sengaja merahasiakan lokasi pastinya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi mengingat adanya simbol Freemason di sana,” ujar Bung Jeck.
Freemason sendiri dikenal sebagai organisasi persaudaraan internasional yang masuk ke wilayah Hindia Belanda sekitar abad ke-19, dan menjadi jaringan sosial elit di kalangan orang Eropa kulit putih.
Mereka kerap terlibat dalam diskusi intelektual, kegiatan filantropi, dan bahkan politik kolonial.
Namun, tak jarang Freemason juga disebut sebagai aliran sesat oleh banyak pihak karena sifat rahasia dan ritualnya yang misterius.
Pemilik rumah, yang enggan disebutkan namanya, mengaku tidak menyadari arti penting nisan itu.
“Saya pikir hanya batu nisan tua biasa. Tapi sejak kecil sering mimpi didatangi sosok tinggi besar yang hanya berdiri diam di depan rumah. Sekarang jadi merinding juga,” katanya.
Menariknya, nisan tersebut menggunakan ejaan lama “TE TAGAL” bukan “TE TEGAL”, memperkuat catatan bahwa pada masa kolonial, nama-nama tempat kerap mengalami perubahan ejaan yang mengikuti pelafalan Belanda, seperti Soerabaja (Surabaya) atau Batavia (Jakarta).