KLIK SAJA – Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam diproyeksikan pemerintah sebagai salah satu lumbung pangan di daerah Sumatera.
Dilansir dari laman web Kemenkeu, untuk mewujudkan hal tersebut, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) siap dukung visi Presiden untuk swasembada pangan melalui pembangunan penyelesaian konstruksi dua bendungan di Aceh, yaitu Bendungan Rukoh dan Bendungan Keureuto.
Kedua bendungan sudah cukup lama ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas irigasi pertanian, mendukung pengendalian banjir, serta menyediakan air baku dan energi listrik bagi masyarakat Aceh.
Baca Juga: Menaker Yassierli Paparkan Empat Fase Arah Kebijakan Ketenagakerjaan Berdaya Saing Global
Menteri PU Dody Hanggodo yang dikutip dalam keterangan resminya pada laman web PU pada (30/10) berujar bahwa pembangunan bendungan ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam mendukung Asta Cita Presiden yakni memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan.
Lebih lanjut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pun sedang mempercepat penyelesaian konstruksi dua bendungan di Aceh, yaitu Bendungan Rukoh dan Bendungan Keureuto yang dikabarkan telah mencapai target 90 persen.
“Kehadiran bendungan ini juga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani, sekaligus mendukung ketahanan pangan yang menjadi prioritas nasional,” ujar Menteri PU.
Bendungan Rukoh terletak di Kabupaten Pidie serta memiliki kapasitas tampungan sebesar 128 juta m³ dan luas genangan 716,7 ha.
Bendungan ini direncanakan akan melayani area irigasi seluas 11.950 ha dengan pola tanam padi-padi-palawija serta intensitas tanam yang mencapai 300% (eksisting 140%).
Selain berfungsi sebagai pendukung irigasi pertanian, Bendungan Rukoh juga berfungsi untuk pengendalian banjir di wilayah Krueng Rukoh dengan potensi pengurangan banjir hingga 89,62%, dikarenakan Kabupaten Pidie kerap dilanda banjir setiap kali musim penghujan tiba,
Bahkan bendungan ini diklaim dapat menyuplai air baku sebesar 0,90 m³/detik.
Bendungan ini sebenarnya dibangun sejak akhir tahun 2018 dengan menghabiskan biaya APBN sebesar Rp 1,5 triliun.
Baca Juga: Indonesia Usulkan 3 Proposal Hadapi Tantangan Perubahan Dunia Kerja Pada28ᵗʰ ASEAN Labour Ministers’ Meeting di Singapura
Bendungan lain di Aceh yang saat ini sedang dikerjakan pemerintah adalah Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara yang memiliki kapasitas tampungan 215,94 juta m³ serta luas genangan 896,6 ha.
Kedepannya bendungan ini dapat melayani kebutuhan irigasi pada lahan seluas 9.455 ha, menyediakan air baku sebesar 0,5 m³/detik serta menghasilkan energi listrik 6,34 MW,
Selain itu, diharapkan dapat mendukung keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Bahkan Bendungan Keureuto diklaim dapat mereduksi potensi banjir di wilayah Lhoksukon hingga 30%.
Bendungan Keureuto sendiri sudah mulai dibangun sejak 2015 dengan menghabiskan biaya APBN sebesar 2,7 triliun.***