“Terus mencari topik yang trending, mengubah ide untuk menjadi materi konten justru bisa membuat burnout atau kelelahan, padahal dituntut untuk konsisten. Sehingga, konten kreator juga perlu memahami platform media sosial,” lanjutnya.
Setiap Platform Membutuhkan Bentuk Konten Berbeda
Agil menjelaskan bahwa media sosial kini berkembang menjadi sarana membangun audiens sekaligus membuka peluang pemasukan bagi kreator.
Karena itu, bentuk konten yang diunggah perlu menyesuaikan kebiasaan pengguna di masing-masing platform. X dan Threads, misalnya, lebih cocok digunakan untuk utas yang memancing diskusi.
Video Reels Instagram juga dapat diunggah ke TikTok dengan penyesuaian caption, sedangkan video panjang YouTube bisa diolah menjadi YouTube Shorts.
Sementara itu, Facebook memiliki karakter pengguna yang berbeda dengan dominasi komunitas tertentu, storytelling yang kuat, serta kemudahan membagikan tautan.
Fokus pada Satu Platform atau Mengembangkan Banyak Platform
Menurut Agil, kreator memiliki kebebasan untuk memilih fokus pada satu platform atau mengembangkan banyak media sosial sekaligus.
Baca Juga: 5 Hal Menarik LRT Jakarta Pegangsaan Dua-Manggarai, Siap Jadi Simpul Baru Transportasi Publik
Masing-masing pilihan memiliki kelebihan dan tantangannya sendiri.
Mengelola satu platform dinilai lebih sederhana dan tidak terlalu menguras tenaga.
Sebaliknya, mengembangkan banyak platform membutuhkan penyesuaian format konten yang lebih kompleks.
“Fokus pada satu platform itu lebih simpel dan tidak membuat capek, tapi di sisi lain, ada kesempatan di platform lain yang ditinggalkan. Sedangkan jika mencoba banyak platform, lebih banyak makan tenaga dan waktu karena harus memikirkan ulang tipe-tipe konten sesuai platformnya,” lanjut Agil.
Website Tetap Memiliki Peran Penting di Era Media Sosial
Selain media sosial, webinar juga membahas karakter website yang berbeda dibanding platform digital lainnya.
Agil menjelaskan bahwa website umumnya berisi artikel panjang yang dicari pengguna ketika membutuhkan informasi tertentu.
Konten di website juga memiliki umur yang lebih panjang karena dapat terus ditemukan melalui mesin pencari.
Ia menilai website memberikan kendali lebih besar terhadap identitas dan aset digital dibanding media sosial.
Artikel Terkait
7 Hal yang Wajib Diketahui Sebelum Parkir di Stadion Piala Dunia 2026, Ada Zona Larangan Parkir hingga Tarif Resmi FIFA
Pengacara Hotman Paris Sebut Sulit Menemui Korban Pembakaran Santri Ponpes Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW Lombok, Ini Kronologinya
Kabar Maluku Utara! Catat Jadwal Kapal KM Persada X Periode 16 – 24 Juli 2026 Rute Sanana – Malbufa – Dofa – Falabisahaya – Bobong – Kendari
Eksplor Maluku! Simak Jadwal Kapal KM Sabuk Nusantara 44 Periode 15 – 24 Juli 2026 Rute Ambon – Kumber – Tual – Banda Eli – Marlasi – Toyando – Kumber
Rieke Diah Pitaloka Respons Kunjungan Wakil Bupati ke Tersangka Kasus Pembakaran Santri Ponpes Lombok, Ingatkan Hukum Nasional