Sebelumnya, lapas tersebut juga mengembangkan lahan pertanian untuk budidaya berbagai jenis sayuran.
Bahkan hasil panennya sempat dikonsumsi dan direncanakan untuk dijual kepada masyarakat.
Selain itu, puluhan napi juga pernah dikirim ke Nusakambangan untuk belajar pertanian dan peternakan dalam program ketahanan pangan nasional.
Program-program tersebut menunjukkan bahwa pembinaan di lapas kini mulai diarahkan pada keterampilan produktif dan sektor pangan.
Pendekatan ini dinilai lebih bermanfaat karena memberi pengalaman kerja nyata bagi warga binaan.
Pelatihan Diharapkan Bantu Reintegrasi Sosial Warga Binaan
Pihak Lapas Semarang berharap keterampilan budidaya sayur dapat menjadi bekal positif bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat.
Baca Juga: Josepha SMAN 1 Pontianak Diundang ke Jakarta usai Viral Protes Juri LCC MPR, Ditawari Beasiswa China
Ahmad Tohari mengatakan, “Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi bekal positif dalam mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan di masyarakat.”
Dengan keterampilan tersebut, mantan napi diharapkan memiliki peluang usaha maupun pekerjaan yang lebih baik.
Selain meningkatkan kemampuan teknis, kegiatan seperti ini juga membantu membangun rasa percaya diri warga binaan.
Program pembinaan berbasis keterampilan dianggap mampu mengurangi stigma negatif terhadap mantan narapidana.
Karena itu, pelatihan kemandirian seperti budidaya sayur terus didorong sebagai bagian penting proses pemasyarakatan modern.***
Artikel Terkait
Info Jadwal dan Tarif Kapal KM Dharma Kencana 5 Rute Palu – Surabaya PP Periode 15 – 28 Mei 2026
Info Jadwal dan Tiket KM Dharma Kartika 7 Periode 16 -30 Mei 2026 Rute Pontianak – Semarang PP
Info Jadwal dan Tarif Kapal KM Kirana 3 Rute Sampit – Surabaya PP Periode 15 – 31 Mei 2026
Kebakaran Hebat di Pabrik Ban Purworejo, Api Diduga Berasal dari Parkiran Motor Bertingkat
Viral di Media Sosial, Ocha Peserta LCC MPR Kalbar Dapat Motivasi dan Tips Debat dari Wapres Gibran