KLIK SAJA - Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali menegaskan pelayanan kesehatan adalah nyawa bagi para penyintas.
Akses jalan terputus, warga terisolir, dan risiko penyakit mengintai di pengungsian.
Sorotan pun datang dari Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2018–2021, dokter Daeng Mohammad Faqih.
Ia menegaskan bahwa penanganan medis di situasi bencana harus cepat, tepat, dan sesuai kebutuhan lapangan.
Baca Juga: Informasi Jadwal Kapal Pelni KM Gunung Dempo Bulan Januari 2026 Rute Makassar – Jakarta - Jayapura
Menolong Korban yang Terisolir Jadi Prioritas Utama
Dalam situasi bencana, dokter Daeng menegaskan bahwa prioritas utama adalah menolong korban yang benar-benar membutuhkan pertolongan.
Banjir dan longsor yang memutus akses jalan membuat banyak warga terisolir tanpa layanan kesehatan memadai.
Kondisi ini, menurutnya, tidak boleh dibiarkan terlalu lama karena bisa memperparah keadaan korban.
“Itu harus diyakinkan tempat-tempat itu mendapat pertolongan yang memang dibutuhkan, berkaitan dengan kesehatan, baik itu tenaga maupun obat-obatan,” ucapnya.
Artinya, negara harus hadir hingga ke titik paling sulit dijangkau.
Bukan hanya soal evakuasi, tapi memastikan layanan medis benar-benar sampai.
Jika tidak, korban berpotensi mengalami komplikasi serius yang seharusnya bisa dicegah sejak awal.
Artikel Terkait
UMK Kota Semarang 2026 Tembus Rp3,7 Juta, Begini Pengaruhnya ke Daya Beli dan Dunia Usaha
UMK 2026 Kabupaten Demak Naik Jadi Rp3,1 Juta, Harapan Baru Buruh atau Tantangan Dunia Usaha?
UMK 2026 Kabupaten Kendal Hampir Rp3 Juta, Ini Dampaknya bagi Pekerja!
Gaji Minimum Naik! UMK 2026 Kabupaten Semarang Rp2,94 Juta Jadi Harapan Baru Pekerja
UMK 2026 Kabupaten Kudus Rp2,81 Juta, Cukupkah untuk Hidup Layak di Kota Kretek?