Sabo Dam dan Penahan Kayu di Hulu Sungai
Selain pembersihan puing, Ferry mendorong pemasangan wood debris barrier di hulu DAS.
“Pasang dulu wood debris barrier di hulu DAS, di Jepang disebut sabo dam, fungsinya air lewat kayu ketahan,” jelasnya.
Alat ini menahan kayu besar agar tidak terbawa arus deras dan merusak jembatan.
Baca Juga: Banjir Surut, Derita Tertinggal! Warga Aceh Tamiang Terpaksa Pakai Air Sumur Kecokelatan
Langkah preventif ini penting agar bencana susulan tidak terjadi.
Sistem ini sudah terbukti efektif di negara yang kerap menghadapi banjir bandang.
Pemanfaatan Kayu Pascabencana Jadi Nilai Ekonomi
Ferry juga mengusulkan pemanfaatan kayu pascabencana untuk mendorong nilai ekonomi lokal.
“BNPB sebagai komando, buat standar teknis, BUMdes atau UMKM, yang mengolah kayunya, sama ciptain nilai ekonomi lokal,” tandasnya.
Kayu yang tadinya menjadi ancaman bisa diubah menjadi sumber pendapatan.
Pendekatan ini sekaligus melibatkan kolaborasi lintas sektor dan membantu masyarakat terdampak mendapatkan manfaat ekonomi dari material yang ada.
Baca Juga: Warga Jalan Kaki Cari Nasi, Relawan Terjebak di Jalan: Kisah Pilu Banjir Bandang Bener Meriah
Kisah pascabencana ini menunjukkan bahwa risiko tidak berhenti setelah air surut.
Driftwood menjadi ancaman nyata yang harus ditangani dengan strategi ilmiah dan praktik terbaik internasional.
Artikel Terkait
Cek Disini! Informasi Jadwal dan Rute Kapal Pelni KM Dorolonda Periode Januari 2026
Tambang Gunung Tumpang Pitu Kembali Bergolak, Begini Aksi Warga Banyuwangi yang Bikin Tegang
Cinta Tak Terhalang Jeruji, Video Ibu Tahanan Bertemu Putrinya di Surabaya Bikin Hati Luluh
Info Penting! Jadwal dan Rute Kapal Pelni KM Tidar Periode Januari 2026
Info Penting! Jadwal Kapal Pelni KM Kelimutu Bulan Januari 2026: Rute Pontianak – Semarang – Kumai – Surabaya – Jakarta