“Kalau jalan tol, tanahnya dibayar negara. Kalau kereta cepat, perusahaan yang bayar. Angkanya bisa 15 triliun. Harusnya ini bisa diatur ulang,” sebutnya.
Ia menambahkan, logika subsidi di sektor transportasi publik bukan hal baru.
Pemerintah bahkan sudah mengeluarkan lebih dari 10 triliun rupiah per tahun untuk subsidi MRT, BRT, dan LRT di Jabodetabek yang melayani jutaan penumpang setiap hari.
Meski begitu, hal tersebut berbeda dengan kereta cepat yang menyasar kalangan menengah ke atas, proyek Whoosh menimbulkan dilema antara kebanggaan nasional dan efisiensi fiskal.
Pertanggungjawaban dan Transparansi
Berkaca dari kontroversi yang kini menjerat proyek Whoosh, hal itu menunjukkan perlunya kejelasan tanggung jawab atas keputusan politik di masa lalu yang kini dianggap membebani publik.
“Tidak adil bagi anak-anak bangsa ini, cucu-cucu kita, menanggung beban sebesar ini hanya karena dulu tidak ada yang berani bersuara,” terang Akbar Faizal.
Di sisi lain, kini akar persoalan Whoosh bukan semata pada utang atau bunga pinjaman, melainkan pada keputusan kebijakan dan model pembiayaan yang sejak awal dianggap tidak transparan.***
Artikel Terkait
3 Eks Pejabat Pertamina Jadi Tersangka Utama! Menelusuri Jejak Kerugian Negara Rp285 Triliun
Kebakaran Hebat Melanda Ruang Panel RS Hermina Bekasi, Berhasil Dipadamkan Tanpa Korban Jiwa
Upaya Efisiensi dan Penghematan BGN Dapat Apresiasi Langsung dari Presiden Prabowo di Acara Wisuda UKRI
Menguak Narasi Perundungan di Balik Kematian Mahasiswa UNUD Diduga Lompat dari Gedung FISIP
Pemerintah Luncurkan Program Magang Nasional untuk Kurangi Pengangguran dan Perkuat Keterampilan Lulusan Perguruan Tinggi