Kesamaan logika ini juga berlaku pada Bitcoin yang meski berbentuk digital, tetap memiliki biaya produksi yang besar.
Oscar menambahkan, biaya tersebut belum termasuk pembelian peralatan penambangan (mining) serta infrastruktur yang diperlukan.
"Bitcoin itu untuk setiap satu bitcoin yang tercipta itu ada biaya listriknya, biaya untuk menciptakan satu Bitcoin hampir mencapai 25.000 USD (sekitar Rp408 juta)," papar Oscar.
"Itu belum terkait biaya beli alat mining-nya, infrastruktur lain yang menambahkan ke dalam biayannya itu," tukasnya.
Baca Juga: Indonesia Siap Kirimkan 10 Ribu Ton Beras ke Palestina
Pernyataan ini semakin memperkuat persepsi Bitcoin bisa menjadi alternatif investasi selain emas.
Kendati sama-sama memiliki biaya produksi yang mahal, keduanya dianggap mampu mempertahankan nilai di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.
Baca Juga: BRI Komitmen Lindungi Sistem Keuangan Nasional! Dukung Penuh Kebijakan PPATK
Namun, Oscar juga mengingatkan setiap investor harus memahami risiko masing-masing instrumen.
Meski dianggap aman, baik emas maupun Bitcoin memiliki ukuran perubahan statistik harga atau volatilitas yang perlu diantisipasi.
Hingga hari ini, dengan semakin berkembangnya teknologi dan tren investasi digital, pandangan terhadap Bitcoin sebagai “emas digital” tampaknya akan terus menjadi perbincangan hangat di kalangan investor global.***
Artikel Terkait
IFG Soroti Tantangan Industri Asuransi Nasional! Tekanan Inflasi dan Kenaikan Klaim Jadi Pemicu Penguatan Fondasi Bisnis
Info Jadwal Kapal Dharma Lautan Utama Rute Semarang - Kumai PP Bulan Agustus 2025, Lengkap Harga Tiket dan Linknya!
Informasi Jadwal KM Dharma Rucitra 6 Rute Semarang - Sampit Bulan Agustus 2025, Cek Harga Tiket dan Linknya!
UMKM di Kepulauan Sitaro Sukses Jadi Pemasok Program Makan Bergizi Gratis Berkat Pembiayaan dan Dukungan BRI
Info Jadwal KM Dharma Rucitra 1 dan KM Dharma Kartika 2 Rute Surabaya - Banjarmasin PP Bulan Agustus 2025, Cek Harga Tiket dan Linknya!