KLIK SAJA - Di tengah keramaian persiapan ibadah haji tahun 2025, satu nama menyita perhatian: Mbah Sumbuk, seorang nenek berusia 109 tahun asal Bekasi, Jawa Barat.
Ia tercatat sebagai jemaah haji tertua Indonesia tahun ini.
Perjalanannya ke Tanah Suci bukan hanya menjadi momen bersejarah bagi keluarganya, tapi juga menyentuh hati banyak orang sebagai kisah penuh makna tentang kesabaran, harapan, dan rasa syukur yang tak lekang oleh waktu.
Lahir di Kebumen pada tahun 1916, Mbah Sumbuk telah melewati lebih dari satu abad kehidupan—zaman yang berubah, generasi berganti, namun keinginannya untuk berhaji tetap teguh dalam hati.
Ia berangkat bersama anak, menantu, dan cucunya yang akan menjadi pendamping setia, Mbah Sumbuk siap menjalani perjalanan suci ke Baitullah.
Sebelum berangkat ke Asrama Haji Bekasi, rumahnya dipenuhi oleh keluarga dan tetangga. Mereka datang membawa doa dan harapan, mengiringi langkah Mbah Sumbuk dengan pelukan dan linangan air mata.
Di usia senja, kekuatan fisiknya mungkin telah memudar, tapi semangat ruhaniahnya justru bersinar terang.
Didampingi oleh putrinya, Sukmi, Mbah Sumbuk menjalani setiap tahapan persiapan dengan sabar.
Bimbingan dari KBIHU, pengecekan kesehatan, dan kelengkapan dokumen dijalani dengan penuh syukur. Fasilitas kursi roda dan tim pendamping pun telah disiapkan agar ibadahnya tetap lancar.
Saat ditanya apa doa yang akan dipanjatkan di Tanah Suci, Mbah Sumbuk menjawab dalam bahasa Jawa dengan suara pelan.
Putrinya menerjemahkan, "Doa saya agar haji saya diterima dan mabrur." Sebuah harapan sederhana namun sarat makna, lahir dari hati yang bersih dan penuh keikhlasan.
Kisah Mbah Sumbuk adalah pengingat lembut bagi kita semua. Dalam hidup yang sering tergesa-gesa, kita diajak untuk menghargai waktu, bersabar dalam doa, dan bersyukur atas kesempatan ibadah yang tak semua orang dapatkan.
Umur panjangnya bukan sekadar angka, tapi saksi dari harapan yang tak pernah padam.
Keberangkatan Mbah Sumbuk dalam kloter 33 dari Embarkasi Jakarta-Bekasi pada Sabtu (17/5/2025) bukan hanya mencatat sejarah, tapi juga membawa pesan: tidak ada kata terlambat untuk mewujudkan impian, selama hati tetap yakin dan syukur tak pernah surut.