Sayangnya, modernisasi menggeser popularitas rumoh Aceh. Banyak masyarakat Aceh kini beralih ke rumah-rumah beton yang dianggap lebih praktis dan efisien.
Namun demikian, rumoh Aceh masih dapat dijumpai di Banda Aceh, tempat beberapa rumah tradisional dijaga dalam bentuk aslinya, baik oleh masyarakat maupun museum.
Rumoh Aceh bukan sekadar bangunan, melainkan cerminan jati diri dan kebanggaan budaya. Merawat dan melestarikannya adalah bentuk cinta pada akar budaya sendiri.
Karena pada akhirnya, mencintai budaya berarti mencintai Indonesia. Cinta budaya, cinta Indonesia.***