lokal

Apa Itu Nujuh Likur, Tradisi Perpisahan Ramadan Masyarakat Adat Serawai Kabupaten Seluma

Senin, 24 Februari 2025 | 05:40 WIB
Masyarakat Seluma sedang jalankan tradisi Nujuh Likur dengan membakar batok Kelapa (detik)

Api yang menyala juga disimbolkan sebagai harapan agar cahaya kebenaran dan kebaikan senantiasa menyinari kehidupan masyarakat.

Di samping itu, tradisi ini juga menjadi momen refleksi bagi masyarakat Serawai untuk mengingat kembali makna Ramadhan sebagai bulan penuh ampunan dan berkah.

Maka dengan membakar tempurung kelapa, mereka secara simbolis melepaskan segala dosa dan kesalahan, menyambut Idul Fitri dengan hati yang bersih dan penuh syukur.

Meskipun zaman terus berubah, masyarakat Adat Serawai selalu mempertahankan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan identitas budaya mereka.

Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat juga turut mendukung pelestarian tradisi ini melalui berbagai kegiatan sosialisasi dan pengenalan kepada generasi muda setiap tahunnya.

Dalam konteks modern, tradisi Nujuh Likur bukan hanya menjadi momen religius, namun juga menjadi daya tarik wisata budaya.

Banyak wisatawan luar daerah yang tertarik untuk menyaksikan langsung keunikan tradisi ini, sehingga turut berkontribusi dalam meningkatkan ekonomi lokal.***

Halaman:

Tags

Terkini