Pembagian bubur suro biasanya dilakukan seusai salat Ashar atau menjelang waktu berbuka puasa.
Warga yang datang ke Masjid Al-Mahmudiyah akan mendapatkan bubur suro secara gratis.
Bukan hanya dari warga sekitar, banyak orang dari berbagai daerah di Palembang juga datang untuk merasakan nikmatnya bubur suro dan mengambil bagian dalam tradisi yang penuh makna ini.
Tradisi bubur suro bukan sekadar kegiatan berbagi makanan, namun juga sarana untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Pada suasana Ramadan yang penuh berkah, tradisi ini mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan keikhlasan.
Di samping itu, tradisi ini juga menjadi bukti nyata bahwa budaya dan agama dapat berjalan beriringan, menciptakan harmoni dalam kehidupan masyarakat.
Walaupun telah berlangsung selama ratusan tahun, tradisi bubur suro tetap lestari dan terus dijaga oleh masyarakat Palembang.
Hal ini menandakan betapa kuatnya akar budaya dan keinginan untuk melestarikan warisan leluhur.
Bahkan, pemerintah setempat dan berbagai pihak juga turut mendukung tradisi ini, baik melalui bantuan dana maupun fasilitas, agar tradisi bubur suro dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang.***