KLIK SAJA - Bulan Suci Ramadan kerap identik dengan berbagai tradisi unik yang mengisi hari-hari penuh berkah.
Salah satu tradisi nusantara yang menarik perhatian adalah Tradisi Bubur Suro di Kota Palembang.
Tradisi ini merupakan kegiatan berbagi takjil berupa bubur suro yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan di kota yang terkenal dengan Jembatan Ampera ini.
Bubur suro dibagikan secara gratis kepada warga yang hendak berbuka puasa, terutama di sekitar Masjid Al-Mahmudiyah atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Suro Palembang yang tak jauh dari Kuto Besak.
Baca Juga: Apa Itu Assuro Maca, Tradisi Khidmat Suku Bugis dan Makassar Sambut Bulan Suci Ramadan
Dikisahkan, tradisi bubur suro telah ada sejak sekitar tahun 1800-an, menjadikannya sebagai salah satu tradisi kuliner Ramadan tertua di Palembang.
Konon, tradisi ini bermula dari kebiasaan masyarakat muslim Palembang yang ingin berbagi kebahagiaan dan keberkahan di bulan suci Ramadan.
Bubur suro sendiri adalah makanan khas yang terbuat dari bubur dengan campuran rempah-rempah khas, memberikan cita rasa yang unik dan nikmat.
Selain sebagai hidangan takjil, bubur suro juga memiliki makna simbolis dalam sendi kehidupan warga Palembang.
Bubur yang lembut dan hangat dianggap sebagai simbol kerukunan dan kebersamaan, sedangkan rempah-rempah yang digunakan melambangkan keberagaman dan kekayaan budaya masyarakat Palembang.
Setiap tahunnya, ribuan warga Muslim di Palembang antusias menyambut tradisi unik ini dengan rela mengantri.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Gembrong Liwet Sambut Ramadan di Dusun Cikubang Sumedang, Sarat Nilai Gotong Royong
Proses pembuatan bubur suro biasanya melibatkan banyak pihak, mulai dari pengurus masjid, relawan, hingga warga sekitar.
Bahan-bahan seperti beras, santan, rempah-rempah, dan bahan pelengkap lainnya disiapkan dengan teliti serta seksama untuk menghasilkan bubur yang lezat dan berkualitas.