lokal

Mengenal Tradisi Gembrong Liwet Sambut Ramadan di Dusun Cikubang Sumedang, Sarat Nilai Gotong Royong

Minggu, 23 Februari 2025 | 16:40 WIB
Tua dan Muda saling gotong royong memasak bersama dalam tradisi Gembrong Liwet di Sumedang (Kabupaten Sumedang)

KLIK SAJA - Begitu pesatnya perkembangan zaman, masyarakat Dusun Cikubang, Desa Citali, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, ternyata masih setia melestarikan tradisi unik yang disebut Gembrong Liwet.

Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud  bentuk syukur dan persiapan menyambut bulan suci Ramadan.

Gembrong Liwet bukan hanya sekadar acara memasak bersama, namun juga menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Megengan di Ngawi, Bentuk Syukur dan Berbagi Sambut Bulan Ramadan

Tradisi Gembrong Liwet ternyata memiliki akar sejarah yang kuat di masyarakat Dusun Cikubang dalam hal dakwah Islam.

Kata "Gembrong" dalam bahasa Sunda memiliki arti "ramai" atau "riuh", sedangkan "Liwet" merujuk pada metode memasak nasi khas Sunda yang dimasak dalam kastrol atau kuali besar.

Tradisi ini dipercaya telah ada sejak zaman Sunda Wiwitan hingga jaman masuknya Islam, serta dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas berkah yang diberikan Tuhan, sekaligus sebagai ajang silaturahmi antarwarga sebelum memasuki bulan Ramadan.

Acara ini biasanya melibatkan seluruh warga Dusun Cikubang, baik tua maupun muda.

Mulanya dimulai dengan pengumpulan bahan-bahan makanan, seperti beras, sayuran, dan lauk-pauk, yang disumbangkan secara sukarela oleh setiap warga.

Selanjutnya, warga berkumpul di suatu tempat, biasanya di lapangan atau area terbuka, untuk memasak bersama.

Baca Juga: Mengenal Maanta Pabukoan, Tradisi Sayang Ibu Mertua Saat Ramadan di Ranah Minang

Nasi liwet kemudian dimasak dalam kuali besar dengan kayu bakar, sementara lauk-pauk seperti ayam, ikan, tahu, tempe, dan sambal disiapkan secara gotong royong oleh warga lainnya penuh suka cita.

Vibes suasana menjadi sangat ramai dan penuh kehangatan, karena semua warga terlibat aktif dalam proses memasak.

Kemudian, setelah masakan siap, warga duduk bersama melingkar untuk menikmati hidangan tersebut sambil berbincang-bincang dan mempererat tali silaturahmi.

Halaman:

Tags

Terkini